Senin, 12 Juli 2010

Kebebasan Berekspresi

Sekali aku pernah dengar:
Kita hidup di zaman yang berbeda sekarang ini dibandingkan beberapa dekade yang lalu. Ini adalah zaman di mana berekspresi itu bebas, tidak perlu diikat, tidak usah diatur.
Nah loh?
Sebentar, pak. Aku menyela dalam hati.
Ga salah tuh? Kebebasan berekspresi yang bapak maksud itu kayaknya berlebihan deh.. itu bukan kebebasan berekspresi, itu cenderung menuju kebablasan berekspresi, lo pak.
Kalo bapak bilangnya kayak gitu, nanti gimana coba, kalo semua orang ga mau diatur, ga mau diikat ama peraturan? Kan bahaya, pak?
Sementara itu, sang bapak terus berkoar-koar mengenai kebebasan kebablasan ekspresi. Aku kira bapak itu mengalami apa yang aku sebut dengan post-vacuum-of-power-syndrome... sindrom yang terjadi setelah adanya tekanan dan himpitan dari pihak yang menyebabkan hak-hak terpangkas, ketika tekanan itu menghilang, kebebasan yang berlebihan pun menjadi kompensasi.
Satu sisi, aku kasihan sama sang bapak, karena mungkin kebebasan berekspresinya dipangkas pada zaman dahulu. Di satu sisi, aku lebih kasihan lagi, karena sang bapak tidak tahu, bahwa zaman ini, kita tidak hanya butuh kebebasan berekspresi, kita lebih membutuhkan hati yang jernih dan akal yang lebih sehat, untuk menimbang mana yang buruk dan mana yang baik.
Rajab 29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar