Rabu, 21 Juli 2010

Sand man

I'm a sand man, I am…
Alhamdulillah...
Kenapa sand man?
Entahlah, perhaps i'm upon the earth, jadi, aku merasa sebagai sand man. Toh, aku diciptakan oleh Allah dari tanah. Pasir adalah tanah yang mengeras dan membutir. Hidup itu misteri. Termasuk, pertemuanku dengan apa yang kunamakan dengan cahaya hidupku. Hidayahku.
Aku menemukannya di sini. Di tempat ini. Di pondok ini.
Ketika aku menemukannya, aku merasa hidupku sangat fulfilled.. thank God, for everything. Aku menemukan semuanya bermakna bagiku. Dunia ini adalah wujud eksistensi Allah. Ketika aku mengetahui itu, terjadi supernova di benakku.
Aku merasa sangat kecil.
Aku, di satu sisi, merasa sangat terhormat. Menjadi hamba dari Penguasa alam semesta.
Aku juga merasa lebih kuat menghadapi apa yang menghantuiku selama ini. Mungkin ini apa yang disebut para ulama sebagai tawakkal.
Ketika aku connected dengan-Nya, dalam dzikir, amal, ibadah, puasa, apa pun... aku merasa... tidak berada di bumi. Aku melayang. Trance. Endless bliss.
Aku melihat segala sesuatu sebagai entitas makhluk.
Ini bukan penglihatan Tuhan, tidak, aku tidak bisa melihat-Nya, dengan mata duniawiku ini. Tapi aku merasakan eksistensi-Nya. Wujud-Nya. Kekuasaan-Nya. Iradah-Nya.
Trilogi dasar iman pun tiba-tiba terasa sangat akrab bagiku: khauf, raja' dan hubb. Takut, harapan dan cinta. Ketiga hal itulah yang menguatkanku.
Bagiku, inilah dzikirku, dalam merumuskan apa yang kualami. Apa yang kubaca.
Membaca alam semesta. Iqra.
Sinar matahari menguning di hadapanku. Pertanda turun hujan, eh? Mungkin, Insya Allah.
Aku sedang membaca alam semesta.
Meja di hadapanku, keyboard, monitor, printer, file-file, record-record, pintu, langit, masjid, cemara, sinar matahari, gedung-gedung, suara, bayangan, rasa, bau, tanganku, tubuhku, jiwaku..
Kesemuanya adalah bukti keberadaan-Nya.
Thank, God.
الحمد لله رب العالمين..
Sya'ban 9 6:19:23

Selasa, 13 Juli 2010

Membangun Imej

Kenapa Membangun Imej?
Imej itu penting. Dari imej, kita bisa meluaskan pengaruh dan menyebarkan visi kita.Dengan imej, kita lebih merasa eksis lagi sebagai manusia.
Bagaimana membangun imej? 
Pertama, tentukan apa yang kamu mau.
Artinya, jangan hanya karena pengin diliat saja. Tujuan, itu fondasi dari aksi. Kalo pengin diliat saja ya cukup jadi orang lebay, nah?
Kedua, apa yang kamu mau, kamu paskan dengan faktor urgensi. Perlu ga jadi seperti ini? Bermanfaat ga bagi orang lain, terutama bagi diri sendiri? Atau malah merusak dan merugikan kepentingan umum?
Ketiga, proses. pada dasarnya membangun imej tak beda dengan mencari jati diri. Jati diri , kadang ketemu ketika masa muda, kadang ketika menua baru ketemu. Kesemuanya butuh proses.

Kalau sudah ketemu?
Tingkatkan. Jangan merasa puas dengan apa yang telah kita raih, karena perubahan itu suatu hal yang alami.

Allahu a'lam.
Madrasah, Rajab 30 1431

Senin, 12 Juli 2010

Finally, the last!

Sore ini aku ikut UAS terakhir di English 2.. Thank God.. I'm gonna make it, Insya Allah!
Rajab 29

Kebebasan Berekspresi

Sekali aku pernah dengar:
Kita hidup di zaman yang berbeda sekarang ini dibandingkan beberapa dekade yang lalu. Ini adalah zaman di mana berekspresi itu bebas, tidak perlu diikat, tidak usah diatur.
Nah loh?
Sebentar, pak. Aku menyela dalam hati.
Ga salah tuh? Kebebasan berekspresi yang bapak maksud itu kayaknya berlebihan deh.. itu bukan kebebasan berekspresi, itu cenderung menuju kebablasan berekspresi, lo pak.
Kalo bapak bilangnya kayak gitu, nanti gimana coba, kalo semua orang ga mau diatur, ga mau diikat ama peraturan? Kan bahaya, pak?
Sementara itu, sang bapak terus berkoar-koar mengenai kebebasan kebablasan ekspresi. Aku kira bapak itu mengalami apa yang aku sebut dengan post-vacuum-of-power-syndrome... sindrom yang terjadi setelah adanya tekanan dan himpitan dari pihak yang menyebabkan hak-hak terpangkas, ketika tekanan itu menghilang, kebebasan yang berlebihan pun menjadi kompensasi.
Satu sisi, aku kasihan sama sang bapak, karena mungkin kebebasan berekspresinya dipangkas pada zaman dahulu. Di satu sisi, aku lebih kasihan lagi, karena sang bapak tidak tahu, bahwa zaman ini, kita tidak hanya butuh kebebasan berekspresi, kita lebih membutuhkan hati yang jernih dan akal yang lebih sehat, untuk menimbang mana yang buruk dan mana yang baik.
Rajab 29

Karakter Guru dan Petani

Guru yang baik adalah seorang petani.
Menjalani kehidupan sebagai seorang guru, setelah menjelang lima tahun ini, aku tersadar akan postulat di atas.

Sabtu, 10 Juli 2010

STMJ

Pagi ini aku baru saja melihat sekilas ustadz Arifin Ilham di tv. Beliau menyebutkan tipologi nafsu yang terkenal itu. Nafsun ammarah bis-su', nafsun lawwaamah, dan nafsun muthmainnah. Ketika sampai pada tipe kedua, nafsun lawwamaah, beliau menyebutkan STMJ, shalat terus maksiat jalan.
Tiba-tiba aku merasa tertembak dengan istilah ini.

Jumat, 09 Juli 2010

YM Semalam...

Semalam, aku ym-an ma teman di mesir.. Udah lama ga temu, kira-kira empat taonan...
ameenr: سلام..
my bro: ya salaaam
my bro: waalaika salam
ameenr: kf hal y amm
my bro: kuwais
my bro: tamam
my bro: wa inta zayy?
ameenr: qwz..

Kamis, 01 Juli 2010

On A Gloomy Day

Tidak bisa kupungkiri, aku lagi futur sekarang.
Dunia seakan gelap, mengintai diriku. Mengintai lemahku.
Hmm, gloomy here, gloomy there.
Tapi aku yakin akan kegelapan ini akan segera selesai.
He's with me.