Selasa, 15 Juni 2010

Indonesia: Sturm und Drang

Sudah waktunya bangsa ini berubah.
Kita punya sumber daya alam yang melimpah ruah, dan sumber daya manusia yang banyak pula, dari segi kuantitas. Kalaulah setiap orang menyadari bahwa dirinya juga bagian dari bangsa yang besar, tentunya ia akan mengambil langkah yang seharusnya ia tempuh.

Kesadaran majemuk bangsa, mungkin itu yang kita perlukan. Kesadaran bahwa kita tidak hidup sendirian di Indonesia ini. Kesadaran bahwa kita harus membantu orang lain, meringankan beban mereka.
Kesadaran bahwa arti hidup adalah memberi, bukan menerima, sebanyak-banyaknya.
To give, to give, to give, then you will earn.
-KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Keyakinan saya mengatakan, mungkin, bangsa ini masih terlalu muda. Umur 65 tahun, mungkin, belum cukup untuk mengecap asam garam dunia, hingga akhirnya ia memilih untuk menjadi dewasa. Bukankah dewasa itu pilihan? Ya.
Dewasa itu sendiri, menurut hemat saya, bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mungkin, bangsa ini memerlukan waktu yang lebih lama lagi supaya ia dewasa. Mungkin bangsa ini kalaulah saya boleh memisalkan, dalam masa strum und drang, masa topan-badai. Badai pasti berlalu, kita diyakinkan oleh almarhum Chrisye akan itu.
Semoga, suatu saat, kita berdiri tegak di muka bumi ini, menyaksikan kebangkitan Indonesia, bangsa yang besar.
بلدة طيبة ورب غفور
Amin.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar