Kamis, 17 Juni 2010

Cerebral Supernova

Malam ini, untuk kesekian kalinya aku membaca Edensor milik Andrea Hirata. Tetap saja, aku tertimpa bencana lokal: cerebral supernova.

Leburan bintang meledak-ledak di kepalaku, membentuk radiasi pikiran dan imajinasi tak terbatas. Dunia luas.
Seakan-akan aku tak percaya bahwa aku baru saja melakukan eksplorasi penjelajahan Eropa hingga Afrika. Andrea menuntunku melalui Ikal dan Arai.
Gambaran-gambaran indah. Estetis. Mempesona. Amazing. Berkelas.
Sejak kapan aku jadi puitis-melankolis seperti ini? Entahlah. Tapi seakan aku, mengutip Ikal, menemukan sekeping mozaik kehidupanku yang hilang.
Thank God, i've found you.
Kesemuanya, serpihan demi serpihan mozaik mengiringku kepada titik puncak, sebuah kesadaran transedental: Tuhan.
Aku tidak dapat menampik kekerdilanku di hadapan-Nya. Aku yang sombong. Aku yang mengira bahwa dunia yang luas ini, hanyalah apa yang ada di hadapanku.
Aku, mimpi-mimpiku. Harapku. Khayalku. Raja'-ku. Khauf-ku. Mahabbah-ku. Kesemuanya melebur dalam dzikirku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar