Jumat, 12 Maret 2010

moral

masihkah relevan berbicara tentang moral?
Masih, saya kira.
Moral, meskipun semakin lama semakin dijauhi oleh publik, tampaknya, masih kita perlukan.
Suatu waktu, saya pernah berkendaraan dengan seorang teman. Ia berasal dari sumatera, berdarah Batak. Ketika itu, sebagaimana tata krama di Jawa, setiap kali kami berpapasan dengan orang lain, saya mengatakan ‘mari,’ atau monggo. Teman saya mengatakan, kamu tidak akan menemukan hal yang sama di Sumatera sana.
Saya tertegun, apakah peradaban Jawa lebih maju? Mungkin pertanyaan ini akan memancing emosi beberapa orang, tapi, setelah beberapa waktu saya analisa, jawabannya: tidak.
Tidak sama sekali, tidak selalu, dan tidak-tidak yang lain.
Setiap suku memiliki kekhasan masing-masing, tapi yang pasti, kesemuanya mengandung nilai-nilai, yang saya anggap itu adalah moral.
Nilai-nilai, identitas itu, menjadi standar kehidupan.
Sekarang, hari ini, kita semakin jauh akan identitas kita.
Dibilang orang Timur, kok kebarat-baratan.
Kita adalah, meminjam istilah entah siapa, generasi yang hilang. The Lost Generation. Generasi X, generasi yang kehilangan identitas.
Bagaimana dengan generasi berikutnya, Y, Z, A’?
Entah.
Moral itu mudah.
Bagi seorang muslim, tetapkan keislaman. Terapkan nilai-nilai Islam dalam hidup. Berpegang erat pada tauhid.

Rabi’ul Awal 24



Tidak ada komentar:

Posting Komentar