Jumat, 12 Maret 2010

Baca, baca, baca

apa kabar perpustakaan?
Sepi pengunjung, mereka lebih memilih warung internet yang berbayar daripada perpustakaan yang gratisan.
Di sebuah kota Jerman, media cetak mengalami kelesuan, digantikan oleh media elektronik yang menjamur.
Memang, media elektronik lebih menjanjikan-begitu pendapat yang berlaku.
Namun, kita kehilangan sesuatu yang berharga. Rasa.
Rasa akan pengetahuan berkurang, menghilang bahkan, ditelan gelombang hypertext yang cenderung instan dan pop.
Pengetahuan pun seakan hanya sekilas saja, tidak nempel, atau melekat, yang diambil dari kata arab ‘malakah’-istilah Ustadz Ali Sarkowi, guru saya; the most inspiring person.
Buku, akan tetap bertahan.
Sehebat apapun Web 2.0 ataupun 3.0 sampai seri n.n nanti, ia tetap maya, tidak nyata.
Rabi’ul Awal 24 1431

 



2 komentar:

  1. syaahidameen8 Mei 2010 12.45

    ya... sehebat apapun internet, buku sebagai media cetak akan tetap dibutuhkan dan relevan... tapi masalah yang ada, kita lebih tertarik pada yang digital dan meninggalkan buku yang sebelumnya berjasa pada kita.. gimana?

    BalasHapus