Jumat, 12 Maret 2010

sibuk

Sebenarnya, kita terlalu disibukkan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, tidak penting, tidak esensial.
Tapi, seakan tiada manusia lain selain kita dan kepentingan kita yang tidak penting~ kita mendahulukan kepentingan pribadi dibanding kepentingan publik.
Beberapa alasan pun dipakai.
Kultus bagi individu-individu yang sibuk, rapat-rapat yang menyibukkan para karyawan, cafe-cafe yang sibuk...
Sibuk, kata yang menyakitkan...
Maaf, saya sibuk...
Rabi'ul Awal 26

Rabb, maafkan kami...

Kami begitu naif, dan begitu berdosa.
Tidak bisa kami pungkiri, kami begitu rindu akan-Mu di hati.
Tapi kami menjauh dari-Mu.
Menafikan eksistensi-Mu, secara implisit maupun eksplisit.
 Kami tak pernah bosan untuk berdosa, dan Engkau, tak pernah berhenti untuk memberikan rahmat-Mu.
Mungkin, hingga suatu saat nanti, hati kami bosan terhadap hitamnya dosa.
Rabb, ampuni kami.
R 24 31 16:51:47





Baca, baca, baca

apa kabar perpustakaan?
Sepi pengunjung, mereka lebih memilih warung internet yang berbayar daripada perpustakaan yang gratisan.
Di sebuah kota Jerman, media cetak mengalami kelesuan, digantikan oleh media elektronik yang menjamur.
Memang, media elektronik lebih menjanjikan-begitu pendapat yang berlaku.
Namun, kita kehilangan sesuatu yang berharga. Rasa.
Rasa akan pengetahuan berkurang, menghilang bahkan, ditelan gelombang hypertext yang cenderung instan dan pop.
Pengetahuan pun seakan hanya sekilas saja, tidak nempel, atau melekat, yang diambil dari kata arab ‘malakah’-istilah Ustadz Ali Sarkowi, guru saya; the most inspiring person.
Buku, akan tetap bertahan.
Sehebat apapun Web 2.0 ataupun 3.0 sampai seri n.n nanti, ia tetap maya, tidak nyata.
Rabi’ul Awal 24 1431

 



moral

masihkah relevan berbicara tentang moral?
Masih, saya kira.
Moral, meskipun semakin lama semakin dijauhi oleh publik, tampaknya, masih kita perlukan.
Suatu waktu, saya pernah berkendaraan dengan seorang teman. Ia berasal dari sumatera, berdarah Batak. Ketika itu, sebagaimana tata krama di Jawa, setiap kali kami berpapasan dengan orang lain, saya mengatakan ‘mari,’ atau monggo. Teman saya mengatakan, kamu tidak akan menemukan hal yang sama di Sumatera sana.
Saya tertegun, apakah peradaban Jawa lebih maju? Mungkin pertanyaan ini akan memancing emosi beberapa orang, tapi, setelah beberapa waktu saya analisa, jawabannya: tidak.
Tidak sama sekali, tidak selalu, dan tidak-tidak yang lain.
Setiap suku memiliki kekhasan masing-masing, tapi yang pasti, kesemuanya mengandung nilai-nilai, yang saya anggap itu adalah moral.
Nilai-nilai, identitas itu, menjadi standar kehidupan.
Sekarang, hari ini, kita semakin jauh akan identitas kita.
Dibilang orang Timur, kok kebarat-baratan.
Kita adalah, meminjam istilah entah siapa, generasi yang hilang. The Lost Generation. Generasi X, generasi yang kehilangan identitas.
Bagaimana dengan generasi berikutnya, Y, Z, A’?
Entah.
Moral itu mudah.
Bagi seorang muslim, tetapkan keislaman. Terapkan nilai-nilai Islam dalam hidup. Berpegang erat pada tauhid.

Rabi’ul Awal 24



The Kite Runner

... pahit, pedih dan nyata.
Novel ini ditulis oleh Khaled Hosseini, seorang Afghani yang tinggal di Amerikan. Mengisahkan kehidupan keluarga Afghan dengan timeline Afghanistan tahun 70-an hingga pasca New York Ground Zero, circa 2001.
Baba, seorang ayah, ditampilkan dengan arogan dan, tentu saja, bentuk-bentuk sifat pengkhianat, . Ayolah, setiap orang pasti pernah berkhianat. Tapi kenapa jarang orang mau bersikap jujur, pada dirinya sendiri, untuk kebaikan dirinya di masa yang akan datang..
Aku lebih melihat bahwa tokoh sentral adalah Baba, bukan Amir. Ia mempengaruhi cerita, mempengaruhi anaknya, ia selalu bisa mengubah dunia tempat ia tinggal dengan keinginannya, begitu Amir bercerita. Bahkan, sampai setelah ia meninggal, pengaruhnya masih tergaung di sisa cerita.
Amir? Sebagai anak Baba yang baik, aku kira, dengan ia meninggalkan dunia ini lebih baik daripada menerima kenyataan ini. Konflik yang bertahun-tahun menerpa selalu berakhir dengan singkat. Bahwa selalu ada harapan di balik semua itu.
Hassan, seorang kaum Hazara, kelas kedua. Syi’ah. Sebagai pembantu, teman baik, saudara pada akhirnya, daripada Amir, aku bisa melihat sisi-sisi tersembunyi dari seseorang. Bagaimana seseorang diam mengikuti nasib. Bagaimana kesetiaan pada sahabat, majikan, itu akan ada. Ia adalah prototip dari Ali, ayahnya. Meskipun teman terbaiknya mengkhianati, ia tetap setia. Kesetiaan yang mengerikan, aku kira.
Afghanistan? Merana... mungkin itu. Eksotisme Kabul, Kandahar, Mazar-i-Sharif, Herat, Celah Khyber, dan tempat-tempat lainnya digambarkan secara ajaib: perubahan total dari monarki ke Rusia, sampai jatuh ke tangan Taliban.. Kemiskinan, teror setiap hari, darah, kekerasan, hmm...

Akan tetapi, ia kehilangan sisi lain... ia, penulis, muslim kan? Seharusnya ia memberikan porsi yang lebih untuk Islam, atau persepsi yang lebih baik daripada sekedar arogansi Taliban, kemunduran yang tercipta setelah tiran-yang-mengatasnamakan-agama berkuasa, rajam. Ataulah, antara Sunni dan Syi’ah. C’mon, dunia ini bukan hanya kamu yang tinggal...
Wewww.. seharusnya aku curiga dari awal, bahwa ethnic cleansing pada akhirnya menjadi salah satu sub-mainstream cerita ini... kaum Hazara yang Syi’ah, berada di kalangan bawah, di bawah kaum Pashtun yang Sunni. Wait a minute. Sekali lagi, aku melihat ketidakadilan dalam pandangan penulis. Seakan-akan.. Islam adalah teror.
Tidak, Islam bukanlah teror.
Teror adalah oknum, bukan Islam itu sendiri.
Islam yang aku anut, dan aku peluk adalah kedamaian. Bukan seperti itu, bukan. Sehingga, ketika buku itu digelari #1 New York Bestseller, yang mungkin kebanggaan bagi penulis, sekaligus pembaca, satu sisi aku miris.
Alangkah tidak proporsionalnya Islam digambarkan di sana.
Islam  bukan hanya teokrasi, sistem pemerintahan yang mengatasnamakan agama, bukan.
Teokrasi akan berakibat kembalinya hantu The Dark Ages of Europe. Zaman yang terbentang sejak keruntuhan Romawi sampai Renaissance tiba, zaman di mana agama-Kristen dan gereja- begitu berkuasa, kekuasaan yang korup sebenarnya, dan segala yang menentang akan mendapat cap heresy, bid’ah.
Yah, mengutip kata-kata Rahim Khan, ada jalan untuk kembali menuju kebaikan. Ada jalan. Selalu ada jalan.
Rabi’u-l-Awwal 1431 17