Senin, 11 Januari 2010

Bahasa Indonesia, apa kabar?

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan bahasa Indonesia. Ia tetap bahasa bagi 210 juta lebih penduduk Indonesia, meskipun mungkin adalah beberapa gelintir yang tidak tersentuh olehnya.

Di tengah gerusan bahasa asing, ia tetap dilafalkan.

Di tengah dekulturisasi, ia berkembang memperkaya dirinya dengan hal-hal asing untuk diindonesiakan.

Insya Allah, Ia akan selalu menjadi bahasa Indonesia.

Semoga.


Tersenyumlah, maka...

Senyum dengan tulus, maka dunia akan tersenyum. Kata-kata itu ringkas, mudah dicerna dan, tentu saja, tulus.

Senyum memiliki kekuatan tersembunyi.

Ia memancarkan gelombang positif, menyerang dari mata, mengarah ke hati. Menunjukkan keramahan.

Dalam sebuah literatur pernah saya baca, orang yang tersenyum berarti menyegarkan urat wajahnya, berlawanan dengan orang yang marah, urat wajahnya akan menjadi lelah karena tegang. Mungkin benar.

Senyum berarti optimisme.

Ia adalah harapan.

Tersenyumlah, maka dunia akan tersenyum.


Demam Itu Baik

Sejak Rabu lalu, demam melandaku.

Aku tidak bisa berhenti, kata hati.

Kalaulah berhenti, akan banyak hal-hal yang tertunda. Kelas, kantor, kuliah dan lain-lain.

Seiring waktu, demam tiada kunjung reda. Hidung mampat. Kepala pening. Terjaga di malam hari. Tidur sulit. Semua gejala mampir.

Tiba-tiba sebuah blitz terjadi.

Aku pernah mempelajari sebuah hadits yang menyebutkan, ketika demam melanda, maka Allah sedang membersihkan kita dari dosa-dosa kecil yang kita lakukan.

Allah akbar.

Apa yang terjadi berikutnya?

Aku tersadar, bahwa penyakit adalah rahmat dari-Nya. Ketika sehat, aku teramat jarang sekali mensyukuri kesehatanku.

'Kesehatan adalah mahkota, tiada yang melihatnya, kecuali orang yang sakit'. Kata-kata itu terngiang-ngiang.

Ketika sakit, aku akan melakukan apapun demi kesembuhanku. Pada akhirnya, kepada-Nya aku berharap agar Ia mengembalikan kesehatanku.

Selagi demam ini masih ada, aku berharap ia akan mengampuniku, semua salah, khilaf, kekuranganku, baik yang kusengaja ataupun tidak. Hingga akhir dari demam ini, semoga, aku dapat memulai lagi hidupku sebagai makhluk yang baru.

 




Jumat, 01 Januari 2010

Memperkaya Diri Dengan Membaca

Tidak dapat dipungkiri, membaca berarti memperkaya diri.

Dengan membaca, kita dapat melihat dunia luas, tanpa meninggalkan kursi tempat kita duduk.

Baru saja, saya menyelesaikan sebuah novel berjudul The Lost Symbol milik Dan Brown. Novel ini memperkaya saya, sebagaimana bacaan-bacaan lainnya yang telah mampir ke tangan saya. Harry Potter adalah contoh lainnya. Lord of The Rings, Sherlock Holmes, Agatha Christie, beserta deretan judul-judul lainnya. Dunia fiksi bagi saya terlalu menggoda untuk dilewatkan.

Tak lupa, membaca sirah nabawiyyah teramat membantu menyegarkan kembali keislaman saya.

Menyimak perjalanan Rasulullah صلى الله عليه وسلم , terasa hidup dan menyentuh, seakan-akan kita masih bersama beliau.

Buku-buku milik Amru Khalid pun terasa amat menarik. Pengalaman spiritual, dihadirkan dengan teks-teks yang 'mengajak', bukan simbolisme an sich.

Sedang bersedih? Peganglah buku fenomenal La Tahzan, milik Dr. Aidh Al-Qarny, buka halaman berapa pun, cari satu sub judul, baca, resapi, rasakan dan bersyukurlah, untuk telah hidup di dunia ini.

Tidak cukup hanya itu, Islam mewariskan ilmu-ilmu yang teramat beragam. Turats, istilah untuk kitab kuning, adalah harta karun yang tak ternilai.

Saya bersyukur, bisa membaca Arab-Inggris berkat sekolah 4 tahun di Gontor. Hambatan teks tidak menjadi masalah bagi saya. Tapi saat ini, di era digital ini, terjemah bukan hal yang sulit.

Pada era ini pula, banyak buku-buku digitized bertebaran.

Kembali, marilah kita perkaya diri dengan membaca.

Iqra'. Itulah perintah Allah, sekaligus wahyu pertama.

Bacalah.

Muharram 15.