Jumat, 25 Desember 2009

Phoenix

Phoenix adalah binatang mitologi. Ia akan terbakar setiap 500 tahun, kemudian bangkit kembali.

Phoenix ibarat harapan.

Harapan mungkin hilang. Pergi menjauh. Padam lalu mati.

Namun ia akan kembali datang. Bangkit. Menyalakan apa yang telah padam.



Kamis, 24 Desember 2009

Hujan Turun!

Akhirnya, hujan turun di Ponorogo. Penantian berakhir.
Langit terlihat ramah hari ini. Dalam hati aku berjanji, aku akan turun ke jalan begitu hujan datang.
Ia datang siang hari. Bau apu- tanah kering yang tersiram hujan- menyapa.
Fa bi ayyi alaai Rabbikumaa tukadzdzibaan.. Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?
Muharram 6

Minggu, 20 Desember 2009

Muharram 1 1431

Tahun baru.

Harapan baru.

Soul baru.

Hijrah.

Kata-kata itu berkelebat dalam kepalaku,

Terjadi supernova.

Sebuah momentum. Sebuah perubahan.

Tidak ada yang lebih baik daripada semangat untuk berubah. Bahkan taubat, memiliki makna perubahan. Terkadang, kita terlalu naif untuk mencari momentum perubahan, menunggu ia datang dan merubah kita. Dan ya, momen itu datang.

Mari kita ubah diri kita, kita perbaiki hati, jiwa dan raga demi sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik.




Kamis, 17 Desember 2009

A Better Day

Need a better day?
Just close your eyes..
Breathe deeply..
Remember your best memories..
Then smile...

GYQYAJ6A2NJ9



Rabu, 16 Desember 2009

Di Ujung Hari

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada malam yang tenang, di mana semua pekerjaan bisa diselesaikan. Pagi hari adalah waktu di mana hiruk pikuk dunia terasa menyesakkan, meskipun itu sebenarnya adalah ritme kehidupan, beat of life.
Sebelum tidur, saya terbiasa memikirkan hal-hal yang menyenangkan, harapan-harapan, cita-cita, kenangan indah, kesemuanya akan membentuk sebuah optimisme dalam jiwa.
Hari pun berlalu, dan esok kan menjelang.

Selasa, 15 Desember 2009

Islam dan Indonesia

Rabi'u Tsani 1430 H baru saja berlalu. Tepat dua tahun aku di kamar ini. Telah banyak yang berubah, baik secara material maupun ma'nawy… aku pun berubah.
Hampir setahun ini, aku bagaikan baru saja melewati proses syahadat, seakan-akan aku adalah seorang muallaf, orang yang baru saja masuk Islam.
Dalam hati aku berkata, aku seorang muslim. Aku bangga dengan itu.
Bagaimana tidak? Setelah perjalanan 21 tahun yang panjang dan melelahkan, akhirnya aku berhasil tiba di destinasi akhirku.
Rabbku.

Aku terlahir sebagai seorang muslim, di sebuah negara non muslim (!) yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam.
Ada yang salah dengan Islam Indonesia?
Islam Indonesia, dapat aku gambarkan sebagai Islam warna-warni, tercampur-aduk dengan mitos, legenda dan hal profan lain. Mungkin secara de jure kami muslim, tapi, secara de facto, entah.. Semoga hanya di Indonesia fenomena itu terjadi.
Islam Indonesia. Kajian unik yang kompleks dan sarat dengan jalan setapak yang berliku, rumit, menyimpan kisah yang lama, yang terkadang menyakitkan untuk dikenang.

Sebagai suatu konklusi, umat harus berbuat sesuatu, untuk menyelamatkan Islam di negara ini, dan di seluruh dunia.
Membangun masyarakat tauhid, bukanlah hal yang mudah. Ia memerlukan basis yang kuat, kemauan serta optimisme akau terwujudnya tujuan ini. Pun, membangun ukhuwah antar muslim, karena dengan timbulnya ukhuwah, timbul kebersamaan dalam Islam.

و الله أعلم

Madrasah, 4 Jumadal Ula 1430

Ketika Dia Pergi

Entah, kenapa, tapi bayangannya begitu melekat di sanubari. Bayangan, seseorang yang benar-benar aku merindukannya.

Sebuah al-matsal al-kamil. Ya, permisalan yang lengkap. Seorang uswah, telah pergi.

Kultus individu? Bukan.

Aku hanya ingin meniru jalannya. Jalannya sebagai seorang hamba di hadapan Allah.

Di tengah keringnya jiwa yang tergerus oleh abad, sosok seseorang yang shalih sangat menyegarkan… di tengah hedonisme, ada kesederhanaan… Di tengah keramaian, ada ketenangan.

Subhanallah,

Walhamdu Lillah

Wa laa ilaaha illa Allah,

Wallahu akbar..

 

Ya Allah, tempatkanlah ia di sisi-Mu, yang penuh dengan kemuliaan.

Dan pertemukanlah aku dengannya, di kehidupan yang nanti, yang aku nanti kedatangannya, setelah fana ini.

Amin.


Obituari untuk KH. Ali Sarkowi, Wafat 25 Ramadhan 1428 Hijriyah.



Minggu, 13 Desember 2009

Stay Alive!

Tetap bertahan, di kala angin menerpa.

Tetap bertahan, saat musibah menyapa.

Tetap berdiri tegak, saat ujian mendera.

 

Kamu terlalu berharga untuk jatuh.

Terlalu mulia untuk menjadi hina.

Terlalu manusia untuk tidak dimanusiakan.

 

Berdiri tegak, menjunjung kalimat-Nya.

La Ilaaha Illa Allah.

 

Kenapa harus kalah, oleh zaman yang menipu?

Kenapa harus lengah di tengah ketenangan?

Kenapa harus sedih, bila masih ada nikmat untuk disyukuri?

Kenapa melupakan apa yang diberi oleh Penciptamu?

Mata, hati, telinga, akal, indera, kenapa kau melupakannya?



Hari Keempat Ramadhan 1430

Pada hari keempat ramadhan ini…

Tanpa kusadari, pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam diriku mengenai esensi, hakikat, renungan-renungan, … menyelam ke dalam samudera jiwa.

tiba-tiba terdengar suara garengpung, serangga yang menandakan pergantian musim, teramat merdu didengar.

Aku tidak ingin ramadhan cepat berlalu, begitu saja.

Aku ingin menjadikannya penuh makna.

Aku ingin perubahan, maka aku harus merubah diriku.

Tidak ada yang lebih membahagiakanku, selain bertemu dengan Rabbku.

Penciptaku.

Tapi, haruskah aku menemui-Nya dalam keadaan penuh nista?

Ketahuilah bahwa dunia adalah dua sisi kehidupan. Baik dan buruk.

Mana yang kau pilih? Terserah.

Apakah kau akan mengikuti hidayah, atau meninggalkannya?

Aku lebih cenderung memilih, bahwa tauhid  berarti pembebasan.

Pembebasan diri, dari penyembahan selain Allah. Dari sesama manusia.

Jangan sombong. Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Kamu tidak punya hak untuk sombong, sedikitpun.

Kalau kamu sombong, maka engkau mencoba untuk mengenakan apa yang tidak pantas bagimu, Kibriyaa'.

Karena Kibriyaa' hanya milik Allah, Al-Khaliq, bukan milik makhluq.

Jangan menyakiti hati orang lain.

Orang lain adalah saudara bagimu, seperti apapun ia. Apalagi, sesama orang muslim.



Deja Vu

Mengingat adalah hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap orang. Ia harus mengingat, karena ia pelupa.

Ia memiliki keterbatasan dalam ingatan.

Suatu saat, ketika mengingat sesuatu, syarafnya akan bergerak menuju ke visualisasi… suatu kelebihan manusia, mampu bervisualisasi.

Teringat, teman-teman, sahabat, masa lalu, hal-hal yang baik maupun buruk.

Ingatlah.

Karena, ingatan yang kabur akan membawa kepada dorongan untuk menciptakan hal yang serupa, bahkan lebih baik.

Childhood memories.

Sesuatu yang strange dan strengthen.

Strange, karena telah terlupakan, tapi begitu dirindukan.

Strengthen, karena ia menguatkan.

Menguatkan kita bahwa, kita pernah mengalami masa-masa yang menyenangkan di masa lalu.

Sepahit apapun, pasti masih ada secuil kenangan manis di antara tumpukan tangis dan perih. Entah itu baik ataupun buruk.

Ingatlah.

Ingatlah, betapa Tuhanmu telah berbaik hati kepadamu.

Dalam setiap nafas dan derapmu.

 

Syukurilah.