Jumat, 17 April 2009

Sub Zero

Tutuplah mata dan dengar. Dengarkan alam sekitar, manusia di sekelilingmu, hal-hal yang membuatmu resah, dan hal-hal yang kau rindukan. Menyatulah dengan alam. Menyatulah dengan semesta. Nikmatilah ketenangan ini, karena ia hanya sesaat, namun begitu berarti.
Inilah waktu di mana ujung-ujung syaraf menjadi peka terhadap hal-hal yang baru, inspirasi. Dan di waktu cahaya inspirasi tersebut datang, seluruh jaringan tubuh akan bereaksi terhadapnya, hati terbangkitkan dari sekarat, akal akan menemukan ide baru, jiwa akan menjadi segar, tubuh kembali muda, dan pada akhirnya akan tercetus, inilah saatnya!
Itulah fitrah manusia, sebagai makhluk rasional. Namun, adakah dia pernah memikirkan, merenungkan, dari mana asal inspirasi, ilham, ide tersebut? Sekalikah ia ingin mengetahui, mengenali, siapa yang memberikannya?
Suatu ketika, akan datang kepadanya sebuah antitesis, paradoks. Paradoks, kebalikan, lawan, dari keadaan inspirasi. Ketika didatangkan kepadanya cobaan, bencana, musibah, ujian. Seluruh jiwanya akan merapuh, tubuhnya akan menua, akal berantakan, terbentur dengan kenyataan. Kemudian muncul satu sentakan. Kenapa?
Itulah sifat dasar manusia. Berubah-ubah, tidak tetap, relatif, nisbi dan tidak mutlak.
Dalam hidupnya, manusia berada dalam suatu pencarian yang besar, pencarian agung akan hakikat kehidupan. Pencarian tersebut bisa sesaat, namun bisa jadi menahun, bahkan seumur hidup, atau bahkan, sangat disayangkan apabila sampai ia menutup hidupnya, ia belum sampai kepada hakikat dari kehidupan yang diembannya.
Hakikat kehidupan bisa beragam di mata manusia, keberagaman tersebut menciptakan perbedaan pandangan, keinginan, hasrat, dan tujuan. Muncullah darinya kebudayaan, peradaban, tokoh, yang berlainan.
Namun sesungguhnya, akhir pencarian adalah kenyataan dari keberadaannya. Dengan kata lain, akhirnya adalah awal. Apa entitasnya di dunia ini? Tidak lain, adalah sebagai hamba-Nya, Pencipta segala sesuatu.
Itulah hakikat kehidupan. penghambaan dan pengabdian total kepada Al-Hayyu Al-Qayyum. Entitas Tertinggi. Dzat dengan segala kesempurnaan, tiada kekurangan.
Apabila manusia telah menemukan hakikat dari kesemuanya, tentang apa yang di belakang yang tampak, tentang kenyataan akan pendalaman metafisis atas dunia fana. Bahwa di belakang yang nampak ini, dengan segala keteraturan penciptaan, ada Pencipta dengan segala kemurahan, menciptakan semesta ini.
Cintailah Ia, maka Ia akan lebih mencintaimu. Datanglah kepada-Nya, Ia akan datang lebih dekat darimu. Mintalah pada-Nya, engkau  akan diberi oleh-Nya.
Segala keresahan, kemarahan, kegundahan, dan hal-hal yang bersifat muhdats, berubah, tidak kekal, fana, akan hilang dengan segera. Ia adalah Al-Baqiy, Al-Qadiim, Al-Awwal dan Al-Akhir. Kepada siapa harusnya kita mencintai. Karena Ia adalah cinta hakiki. Tidak akan terhapus oleh zaman, tergerus oleh waktu, dan merapuh oleh masa.
Bukalah matamu dan lihatlah. Hal-hal di sekelilingmu. Entitas dan eksistensi bertebaran. Ayat-ayat Rabbmu. Ayat-ayat yang nyata, bukti keberadaan dan kebesaran Pencipta.
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana engkau dustakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar