Selasa, 28 April 2009

I'm tired of this…

Beberapa saat lalu, ketika sedang browsing tiba-tiba sampai ke halaman berikut, dan akhirnya menemukan sebuah 'dialog antar agama' yang cenderung … entahlah… saya hanya dapat berkomentar seadanya saja…
Salam,
errr.... saya tidak tahu dari mana harus memulai, tapi saya ingin mengenalkan diri saya. Saya seorang muslim sejak lahir, Alhamdulillah. Pertentangan agama memang hal yang sudah lazim terjadi, namun, tentu saja, dengan menggunakan etika. Sebagai umat Islam, kita tidak dibenarkan untuk menghina kepercayaan orang lain, yang mana memang kita tidak percaya-karena ia akan ganti membalas menghina. Perhatikan: apabila anda menghina kepercayaan agama orang lain, bayangkan apabila hal itu terjadi pada diri anda, apakah anda terima agama anda dihina, diinjak-injak? Jawaban telah terdengar dari lubuk hati: tentu tidak.
Sampai kapankah ini berakhir? Allah a'lam, Ia lebih mengetahui.
KEbenaran itu mutlak, harga yang tak tertawar dan terkompromi. Ia dari Allah. Kita harus yakin itu.
Marilah, kita buka pintu dialog secara rasional, dan terbuka, tanpa harus ada caci-maki terucap.
Kalaulah dialog itu telah sampai pada akhirnya, kita hanya bisa mendoakan agar orang yang kita ajak dialog terbuka hatinya.
Ingat, da'wah ada tiga cara, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an: dengan hikmah, nasihat, dan dialog yang baik.
Mari kita akhiri caci-maki ini, energi kita lebih diperlukan untuk maslahat umat. Umat ini lebih memerlukan pemimpin-pemimpin Islam yang berkarakter kuat, daripada sekedar pencaci maki yang tidak karuan.
Mungkin bagi anda yang membaca komentar ini kemudian berpendapat lain, terserah.
Hanya satu hal yang pasti, kebenaran itu suatu hal yang mutlak.
Allahu a'lam.



Jumat, 17 April 2009

Sub Zero

Tutuplah mata dan dengar. Dengarkan alam sekitar, manusia di sekelilingmu, hal-hal yang membuatmu resah, dan hal-hal yang kau rindukan. Menyatulah dengan alam. Menyatulah dengan semesta. Nikmatilah ketenangan ini, karena ia hanya sesaat, namun begitu berarti.
Inilah waktu di mana ujung-ujung syaraf menjadi peka terhadap hal-hal yang baru, inspirasi. Dan di waktu cahaya inspirasi tersebut datang, seluruh jaringan tubuh akan bereaksi terhadapnya, hati terbangkitkan dari sekarat, akal akan menemukan ide baru, jiwa akan menjadi segar, tubuh kembali muda, dan pada akhirnya akan tercetus, inilah saatnya!
Itulah fitrah manusia, sebagai makhluk rasional. Namun, adakah dia pernah memikirkan, merenungkan, dari mana asal inspirasi, ilham, ide tersebut? Sekalikah ia ingin mengetahui, mengenali, siapa yang memberikannya?
Suatu ketika, akan datang kepadanya sebuah antitesis, paradoks. Paradoks, kebalikan, lawan, dari keadaan inspirasi. Ketika didatangkan kepadanya cobaan, bencana, musibah, ujian. Seluruh jiwanya akan merapuh, tubuhnya akan menua, akal berantakan, terbentur dengan kenyataan. Kemudian muncul satu sentakan. Kenapa?
Itulah sifat dasar manusia. Berubah-ubah, tidak tetap, relatif, nisbi dan tidak mutlak.
Dalam hidupnya, manusia berada dalam suatu pencarian yang besar, pencarian agung akan hakikat kehidupan. Pencarian tersebut bisa sesaat, namun bisa jadi menahun, bahkan seumur hidup, atau bahkan, sangat disayangkan apabila sampai ia menutup hidupnya, ia belum sampai kepada hakikat dari kehidupan yang diembannya.
Hakikat kehidupan bisa beragam di mata manusia, keberagaman tersebut menciptakan perbedaan pandangan, keinginan, hasrat, dan tujuan. Muncullah darinya kebudayaan, peradaban, tokoh, yang berlainan.
Namun sesungguhnya, akhir pencarian adalah kenyataan dari keberadaannya. Dengan kata lain, akhirnya adalah awal. Apa entitasnya di dunia ini? Tidak lain, adalah sebagai hamba-Nya, Pencipta segala sesuatu.
Itulah hakikat kehidupan. penghambaan dan pengabdian total kepada Al-Hayyu Al-Qayyum. Entitas Tertinggi. Dzat dengan segala kesempurnaan, tiada kekurangan.
Apabila manusia telah menemukan hakikat dari kesemuanya, tentang apa yang di belakang yang tampak, tentang kenyataan akan pendalaman metafisis atas dunia fana. Bahwa di belakang yang nampak ini, dengan segala keteraturan penciptaan, ada Pencipta dengan segala kemurahan, menciptakan semesta ini.
Cintailah Ia, maka Ia akan lebih mencintaimu. Datanglah kepada-Nya, Ia akan datang lebih dekat darimu. Mintalah pada-Nya, engkau  akan diberi oleh-Nya.
Segala keresahan, kemarahan, kegundahan, dan hal-hal yang bersifat muhdats, berubah, tidak kekal, fana, akan hilang dengan segera. Ia adalah Al-Baqiy, Al-Qadiim, Al-Awwal dan Al-Akhir. Kepada siapa harusnya kita mencintai. Karena Ia adalah cinta hakiki. Tidak akan terhapus oleh zaman, tergerus oleh waktu, dan merapuh oleh masa.
Bukalah matamu dan lihatlah. Hal-hal di sekelilingmu. Entitas dan eksistensi bertebaran. Ayat-ayat Rabbmu. Ayat-ayat yang nyata, bukti keberadaan dan kebesaran Pencipta.
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana engkau dustakan?

Pohon Kejadian

Aku teringat beberapa tahun lalu, pernah membaca buku yang berjudul “syajaratul kaun”, pohon kejadian. Buku itu memaparkan mengenai hal-hal yang ada di dunia ini, kejadian-kejadian, hal-hal yang mungkin terlewatkan oleh kita.
Entah sampai sekarang di mana buku itu, tapi yang jelas buku tersebut pada akhirnya membangkitkan sesuatu yang selama ini tertidur lelap dalam benakku.
Kejadian, penciptaan, entitas, being.
Hanya Ia yang menguasainya.
Bahwa dalam setiap hela nafas, denting nada, detak jantung, kilatan mata, aliran darah, adalah kaun.
Kaun yang nyata.
Kaun yang merupakan aayat.
Setiap siratan warna, adalah kaun.
Gelombang.
Arus. Hawa. Foton. Gravitasi. Energi. Materi. Antimateri.
Kesemuanya adalah kaun.
Neutron, elektron, proton, quark, meson. Kesemuanya kaun.
Apa yang membutakan mata dari kenyataan yang benar-benar nyata ini?
Kembalilah.
Ingatlah.
Berzikirlah.
Sujudlah untuk Dzat-Nya.
Sebutlah nama-Nya, fajarmu dan petangmu.
Maka Ia akan memberikanmu pintamu, dan mengabulkan doamu.
Ialah Ahad.
Jadilah hamba yang sejati, yang hanya menyembah kepada-Nya.
Dan cukuplah bagimu, Allah.
حسبك رب الجلال والإكرام
Madrasah
20 Jumadal Ula 1429
for someone who lost his way, find it. Find Him, He will guide you the straight way.