Kamis, 26 Maret 2009

tengah malam, shafar 23

saat ini tengah malam shafar 23.
Setelah ini aku ingin tahajjud.
Tadi, setelah maghrib aku langsung ketiduran...

Perubahan.
Itu yang sekarang ingin kulakukan.
Diri.
Sekitar.
Saya tidak mau berubah, buat apa saya merubah diri sendiri kalau orang sekitar tidak berubah? – Ustadz Yusuf Mansur –

Berubah, dari hal yang kecil saja.
Kerjaan misalkan.
Menjadi orang lain adalah masalah tersendiri.
Seseorang harus menjadi dirinya sendiri, bukan orang lain.
Hanya satu.
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Ialah uswah hasanah.

Kebahagiaan religiusnya adalah berupa pemenuhan atas perintah Ilahi  – MM. Al-Zabidi, Taj-ul-'Arus, dari Isma'il  Raji Al-Faruqi, Tauhid–


Seorang manusia harus bisa menjaga kedekatannya dengan Allah.
Karena semakin jauh, semakin ia kehilangan nilai-nilai Ilahiyyah, semakin ia tersesat.
Dari sinilah seorang muslim bergerak.
Menemukan jati dirinya.
Mencari jalan.
Namun, ia tidak perlu ke mana-mana, karena jalan itu telah tepat terpatri di depannya. Ialah Islam.
Namun pemahaman Islam  secara fisik akan membawa kepada kekeringan jiwa. Ia tak ubahnya orang yang melihat suatu bangunan dari luar. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar berupa tembok tinggi, sehingga menutupi pandangan. Setiap hari, ia melihat bangunan tersebut, dan begitulah ia setiap hari. Ia tidak pernah masuk ke dalam pagar itu.
Lama kelamaan, ia bosan dengan pagar tersebut. Ia mulai mengkritik, kenapa pencipta pagar tersebut begitu monoton seleranya, tidak memberikan dekorasi atau apapun yang bisa memberikan nuansa lain...
Namun begitu ia masuk ke dalam pagar tersebut, ia baru menyadari, bahwa yang dilihatnya hanyalah luar saja, bukan dalamnya....
Wallahu a’lam.

Shafar 23, 01:18

Terima kasih untuk sayyid Isma’il Raji Al-Faruqi al-marhum. جزاكم الله خيرا
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar