Senin, 16 Maret 2009

Synchronize Yourself

kita membutuhkan sinkronisasi dengan alam semesta. Tanpa sinkronisasi, hidup adalah suatu perlawanan terhadap alur semesta. ketika kita melawan semesta, segalanya akan kacau. Namun, sebagai makhluk yang memiliki ego ( atau egois?) kita mempunyai pendapat tersendiri. Kita sebagai manusia memiliki alasan untuk melakukan segala sesuatu. Entah itu benar, ataupun salah. Siapa bilang benar dan salah itu relatif? mungkin orang yang beberapa waktu lalu pusing dengan realitas yang terjadi di dunia... kemudian dengan serta merta menyimpulkan. Hmm... Terlebih, kita membutuhkan sinkronisasi dengan Pencipta Alam Semesta. Mengakui ketuhanan Allah. Ilahiyyah-Nya. Senantiasa mengingat-Nya. Mengagungkan dan menyebut nama-Nya. Melakukan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang. Itulah manifestasi dari iman dan taqwa.

Lihatlah langit.

Siapa yang mendirikannya? Bandingkan dengan gedung pencakar langit. tidakkah terbesit untuk mengakui bahwa langit memiliki Pencipta? Musabbibu-l-Asbaab? Pencipta segala sebab kejadian? Sementara itu, manusia semakin liar dengan egonya. Dengan berteorikan evolusi dan 'survival for the fittest', yang berlanjut kepada 'we need no such creator', ia menyimpulkan : 'there is probably no god : now stop worrying and enjoy your life'... Entah kemana akalnya.

نعوذ بالله من ذلك..



Akhirul kalam, seorang manusia membutuhkan agama sebagai idealismenya, dan satu-satunya agama yang benar adalah Islam. Tidak percaya? Tidak apa-apa. Antara yang benar dan salah telah terpisah dengan nyata. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka ia telah memiliki pegangan kuat, idealisme utuh, yang tak akan luntur diterpa zaman. Lihat Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 256:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)



Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut(^) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (^) Thaghut: ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah swt.

والله أعلم بالصواب



Madrasah, 17 Rabi'ul Awwal 1430.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar