Kamis, 26 Maret 2009

Manusia Langit

manusia langit, yang turun ke bumi. Memberikan cahaya. Menyinari dunia.
Idealismenya adalah Islam. Komitmennya adalah Islam.
Cahayanya adalah hidayah, petunjuk dari Allah. Dengannya adalah Al-Qur'an, dan As-Sunnah. Itulah ilmunya. Memandang segala sesuatu dengan utuh, tidak parsial, tidak memihak, ataupun memvonis.
Dalam lidahnya, nama Allah tersebut. hatinya disibukkan oleh dzikir.

Ini adalah gambaran... yang aku jauh sekali darinya. Tapi, Bismillah, aku ingin mendekat setapak kepadanya.


diam...

diam menyelesaikan banyak masalah. Karena dengan diam, marah terobati.
Dengan diam, strategi terancang.
Dengan diam, pikiran tenang.
Dengan diam, dzikir tersebut.
Dengan diam, dalam diam.
Diam.


Dzikir

mengapa dzikir begitu sulit untuk ditetapkan di hati?
Apakah hati ini telah menjadi begitu keras untuk mengingat Penciptanya?
Ataukah kesombongan diri yang melindas kenyataan?
اللهم أعنا على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك...

Shafar 12

Hujan

pagi ini 5.30, hujan turun.
Hujan adalah perwujudan dari rahmat Allah yang teramat luas dan tak terhingga.
Bagaimana tidak, setiap makhluk hidup memerlukan hujan. Bukan hanya tetumbuhan. Bahkan bumi merindukan turunnya hujan. Ia tunjukkan kerinduannya dengan mengeras, mencadas dan bahkan meretak, untuk kemudian luluh kembali, menjadi subur kembali ketika hujan menyentuh permukaannya. Hujan. Meskipun dibahas berkali-kali, ia tetap keajaiban alam.
Shafar 13

Nasihat Dari Masa Lalu

Le,

Kowe kuwi dudu sopo-sopo, cah wingi sore, ojo dumeh, lan ojo gumunan.
Kowe kuwi sejatine makhluke Gusti Pangeran. Eling-elingo kuwi sak umur kowe urip.
Nyuwuno, ndungaa, karo Gustimu.
Ojo njaluk saka manungsa liya.
Ojo keblinger karo dunya. Dunya kuwi setithik, akhirat kuwi ora ana batese.
Matura nuwun karo Gustimu.
Wis akeh sing didadekne kanggo kowe.
Maca shalawat sing akeh kanggo Kanjeng Nabimu.
Ojo wedhi karo liyane Gusti Pangeranmu. Ojo nganti kowe wedhi karo podho manungsane.
Le, uripmu kuwi sisan. Gawe uripmu ning kabecikan, ojo ala. Lak wis teko wektune, uripmu mari.

sebagai orang jawa, saya banyak menerima pelajaran falsafah kehidupan, baik dari keluarga ataupun orang lain... terima kasih untuk semua. Jazakumullah. 


tengah malam, shafar 23

saat ini tengah malam shafar 23.
Setelah ini aku ingin tahajjud.
Tadi, setelah maghrib aku langsung ketiduran...

Perubahan.
Itu yang sekarang ingin kulakukan.
Diri.
Sekitar.
Saya tidak mau berubah, buat apa saya merubah diri sendiri kalau orang sekitar tidak berubah? – Ustadz Yusuf Mansur –

Berubah, dari hal yang kecil saja.
Kerjaan misalkan.
Menjadi orang lain adalah masalah tersendiri.
Seseorang harus menjadi dirinya sendiri, bukan orang lain.
Hanya satu.
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Ialah uswah hasanah.

Kebahagiaan religiusnya adalah berupa pemenuhan atas perintah Ilahi  – MM. Al-Zabidi, Taj-ul-'Arus, dari Isma'il  Raji Al-Faruqi, Tauhid–


Seorang manusia harus bisa menjaga kedekatannya dengan Allah.
Karena semakin jauh, semakin ia kehilangan nilai-nilai Ilahiyyah, semakin ia tersesat.
Dari sinilah seorang muslim bergerak.
Menemukan jati dirinya.
Mencari jalan.
Namun, ia tidak perlu ke mana-mana, karena jalan itu telah tepat terpatri di depannya. Ialah Islam.
Namun pemahaman Islam  secara fisik akan membawa kepada kekeringan jiwa. Ia tak ubahnya orang yang melihat suatu bangunan dari luar. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar berupa tembok tinggi, sehingga menutupi pandangan. Setiap hari, ia melihat bangunan tersebut, dan begitulah ia setiap hari. Ia tidak pernah masuk ke dalam pagar itu.
Lama kelamaan, ia bosan dengan pagar tersebut. Ia mulai mengkritik, kenapa pencipta pagar tersebut begitu monoton seleranya, tidak memberikan dekorasi atau apapun yang bisa memberikan nuansa lain...
Namun begitu ia masuk ke dalam pagar tersebut, ia baru menyadari, bahwa yang dilihatnya hanyalah luar saja, bukan dalamnya....
Wallahu a’lam.

Shafar 23, 01:18

Terima kasih untuk sayyid Isma’il Raji Al-Faruqi al-marhum. جزاكم الله خيرا
 


Ujian Loyalitas

Setiap ujian yang Allah berikan adalah ujian loyalitas.
Loyalitas kepada Allah.
Loyalitas kepada Rabb.
Apakah kita akan bersabar. Bertahan. Menjadi hamba yang lebih baik.
Menjadi seseorang yang rabbaniy. Seseorang yang dinisbatkan kepada Rabb.
Alangkah indahnya.

Blogging dan idealisme

alasan?
ok, kita semua butuh alasan untuk blog. Apapun alasannya, yang pasti hanya satu: idealisme.
Blogging adalah idealisme.
Karena tanpa idealisme, blog hanya lembaran-lembaran kosong yang hanya dikejar demi meraih 'dollar per click' atau page rank yang tinggi di alexa maupun google. Berorientasi kepada link-link yang ditukar-tukar... whatta..
Memulai blog sebenarnya bagi saya adalah keisengan saja...dengan segala kesibukan yang ada, mungkin blogging adalah kerjaan bagi orang ga ada kerjaan, mungkin begitu beberapa kolega berpendapat...
Namun, lama kelamaan... idealisme muncul, untuk menciptakan blog yang eksis. Blog yang merupakan citizen journalism. Blog yang tanpa tekanan bercerita. Mampu memberikan kontribusi, setidaknya bagi penulis blog sendiri.
Blog adalah sejarah yang kita ukir di atas keyboard, selagi blog itu berada di atas kebenaran.

22 Rabi'ul awwal.

Senin, 16 Maret 2009

Synchronize Yourself

kita membutuhkan sinkronisasi dengan alam semesta. Tanpa sinkronisasi, hidup adalah suatu perlawanan terhadap alur semesta. ketika kita melawan semesta, segalanya akan kacau. Namun, sebagai makhluk yang memiliki ego ( atau egois?) kita mempunyai pendapat tersendiri. Kita sebagai manusia memiliki alasan untuk melakukan segala sesuatu. Entah itu benar, ataupun salah. Siapa bilang benar dan salah itu relatif? mungkin orang yang beberapa waktu lalu pusing dengan realitas yang terjadi di dunia... kemudian dengan serta merta menyimpulkan. Hmm... Terlebih, kita membutuhkan sinkronisasi dengan Pencipta Alam Semesta. Mengakui ketuhanan Allah. Ilahiyyah-Nya. Senantiasa mengingat-Nya. Mengagungkan dan menyebut nama-Nya. Melakukan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang. Itulah manifestasi dari iman dan taqwa.

Lihatlah langit.

Siapa yang mendirikannya? Bandingkan dengan gedung pencakar langit. tidakkah terbesit untuk mengakui bahwa langit memiliki Pencipta? Musabbibu-l-Asbaab? Pencipta segala sebab kejadian? Sementara itu, manusia semakin liar dengan egonya. Dengan berteorikan evolusi dan 'survival for the fittest', yang berlanjut kepada 'we need no such creator', ia menyimpulkan : 'there is probably no god : now stop worrying and enjoy your life'... Entah kemana akalnya.

نعوذ بالله من ذلك..



Akhirul kalam, seorang manusia membutuhkan agama sebagai idealismenya, dan satu-satunya agama yang benar adalah Islam. Tidak percaya? Tidak apa-apa. Antara yang benar dan salah telah terpisah dengan nyata. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka ia telah memiliki pegangan kuat, idealisme utuh, yang tak akan luntur diterpa zaman. Lihat Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 256:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)



Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut(^) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (^) Thaghut: ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah swt.

والله أعلم بالصواب



Madrasah, 17 Rabi'ul Awwal 1430.