Jumat, 02 Januari 2009

Pagi Ini


Seperti biasa, ada kuliah subuh setelah
jama'ah di masjid pusaka. Ustadz Syarif begitu loyal kepada kami untuk
menyampaikan –tak dapat kupungkiri- makanan hati, begitu istilahku.


Namun, ada yang berbeda pagi ini. Beliau
menyampaikan mengenai kisah nyata yang beliau alami ketika kelas enam dulu.
Menjelang perpisahan, Pak Zar – sebutan populer KH. Imam Zarkasyi pendiri pondok
ini – memberikan secarik kertas kepada beliau untuk menuliskan di atasnya, ke
mana setelah lulus.


Pilihan beliau, adalah mengabdi kepada Kyai,
dengan segala resiko apapun, bahkan disuruh menjadi tukang bersih-bersih pun
beliau mau.

Sebegitunya? Iya.


Pak Syarif meneruskan.



Itu karena beliau percaya pada Pak Zar. Bahwa
selama itu, Pak Zar selalu memperhatikan beliau, menyayangi beliau,
menginginkan yang terbaik untuk beliau.


Pada saat itu, tiba-tiba terjadi supernova
dalam benakku.

Itulah ruh seorang kyai.



Ruh yang nyata, dan terasa melampaui batas
waktu.


Seakan-akan Pak Zar masih hidup di antara
para murid.


Mungkin itu yang beberapa saat ini terbesit
dalam khaatirku.

من أراد بك خيرا...


فإنه أبوك.




Yang menginginkan
kebaikan padamu.



Ada ikatan, ada soul
antara keduanya. Sinergi jiwa, yang saling menguatkan dan bertemu melalui doa.

Alangkah indah.




Itulah kyai.
Sedangkan ustadz – aku tidak mau memakai sayyid, terserah apatah
nantinya – adalah wakil dari kyai untuk menjalankan misi transformasi nilai.


Transformasi nilai,
ilmu, amal, role-mode, dan semua kebaikan.


Betapa mulianya
status ini.

Khalifah dari kyai.




Entah apa yang aku
bicarakan ini.


Tapi aku akui, baru
saja menemukan secercah soul di kelasku sekarang. Pun, soul itu
dariku.


Beberapa orang yang
kuketahui memiliki soul ini, adalah Kyai Syukri, Kyai Hasan dan Kyai
Syamsul. Ustadzku, ayahku, Ali Sarkowi rahimahu Allah. Ustadz Dihyatun
Masqon. Ustadz Syarif. Ustadz Kholid Muslih. Dan masih banyak lagi.

من أراد بي خيرا.


Itulah mereka.



Aku ingin menjadi
seperti mereka.



Itu adalah proses...
tapi proses itu hanya bisa di'pantik', trigged, dengan keinginan dan
kemauan.


Itulah. Iman berarti
keaktifan seseorang dalam mengolah rasa dalam hatinya dengan The Highest
Supreme
.


Percaya, tidak
sekedar percaya, namun ia juga harus aktif.


Karena iman itu berarti
perkembangan.


Madrasah. 12 Dzulqa'dah 1429. 10.05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar