Rabu, 14 Januari 2009

Pasti

Pasti? Apakah ada hal yang pasti mutlak? Tidak.
Karena tidak ada yang kekal. Tidak ada yang pasti. Tidak ada yang mutlak.
Kita akan berubah, kita akan menua, kita akan mati. Itulah proses. Tidak ada yang kekal. Tidak ada yang tidak berubah.
Kecuali Allah.

Waktu

Sejenak aku berharap bahwa waktu akan terhenti mesti sesaat. Tapi ternyata tidak. Waktu terus melaju, menggilas apapun yang terhenti menghalang. Terkesiap aku melihat kenyataan. Waktu kan terus berputar. Tiada apapun yang dapat menghentikan, kecuali kehendak Penciptanya.
Aku harus terus melaju, bersama sang waktu.

Sebuah Ultimatum Bagi Umat


Ketika abad ke-15 Hijriyah datang, umat Islam dari segenap penjuru dunia menyerukan harapan akan datangnya masa keemasan Islam kembali. Namun, kembalinya masa keemasan memerlukan harga yang mahal untuk ditebus.
Umat Islam, selama belum berpegang pada apa yang diwariskan Rasulullah shalla Allah 'alaihi wa sallam, Al-Qur'an dan sunnah, tidak akan pernah mencapai kejayaannya.
Selagi kaum muslimin masih berseteru satu sama lain, mengalami konflik internal, mendahulukan kepentingan pribadi, berlomba-lomba dalam keduniaan, jangan pernah sekalipun berharap Islam keluar dari krisis.
Hal sedemikian pernah disampaikan oleh Rasulullah shalla Allah 'alaihi wa sallam, bahwa akan ada satu penyakit yang akan menjangkiti umat ini, yakni penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati.
Keruntuhan khilafah terakhir, Khilafah Utsmaniyyah, merupakan pukulan telak bagi umat Islam. Dengan tiadanya khilafah, maka Islam tidak memiliki izzah. Selamanya akan dijajah bangsa lain, agama lain, tuhan lain.
Kembali kepada Islam yang benar, Islam yang asli, Islam Rasulullah shalla Allah 'alaihi wa sallam, dan  sahabat. Bukan Islam yang telah tercerabut dari akarnya. Islam yang telah berpaling dari akhirat. Apakah agama saya? Islamkah? Islam yang bagaimana? Sudah benarkah Islam saya? kita harus bertanya seperti itu pada diri kita masing-masing. Islam adalah kaaffah, menyeluruh, komprehensif, menyentuh semua aspek kehidupan, baik secara umum bahkan sampai pada detailnya. Islam tidak hanya syahadat, shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, haji, dan zakat saja, karena kesemua ibadah apabila dilakukan begitu saja, tanpa dihayati dan ikhlas untuk Allah, hanya sebatas itu saja. Berapa banyak kita lihat umat mendirikan shalat, berhaji, namun kelakuannya tidak berbeda dengan orang kafir, bahkan lebih rendah darinya? Umat ini, benar-benar sedang dalam krisis identitas. Apakah saya muslim yang hakiki? Sudahkah saya ikhlas dalam beribadah? Tanyalah pada diri masing-masing.
Kita tidak dapat memungkiri bahwa gencarnya westernisasi turut menerpa kita, kita pun tersapu oleh gelombangnya. Barat mengklaim dirinya sebagai penduduk dunia nomor satu, kita setelahnya, bahkan  setingkat di bawahnya. Timbulah inferioritas umat. Umat merasa rendah, melihat kebudayaan Barat. Maka terbesit untuk mengikutinya, menjadi konsumen dari produk-produk buatannya, menjadikannya sebagai peradaban alternatif, bahkan rela berganti identitas.
Akankah kita terus-menerus silau melihat Barat, tanpa melihat kebobrokan di dalamnya? Ketika makalah ini sedang ditulis, krisis ekonomi sedang melanda Amerika Serikat, negara yang selama ini dianggap sebagai negara adidaya. Arogansi Barat dan superioritasnya jatuh. Sudah waktunya umat bangkit.
Satu-satunya peradaban yang paling sesuai bagi umat manusia hanyalah Islam, bukan peradaban lain. Islam telah disempurnakan oleh Allah, haruskah kita meragukannya? Tegaknya Islam, berarti tegaknya kalimat Allah. Dengan itu, seluruh umat manusia akan bisa diselamatkan.
Umat Islam adalah umat terbaik, yang pernah ada bagi umat manusia. Hal itu telah termaktub dengan nyata dalam Al-Qur'an. Akan tetapi, syarat sebagai umat terbaik adalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan, serta beriman kepada Allah. Sudahkah umat ini menjadi golongan tersebut?
Tidak akan pernah ada kata putus asa untuk mewujudkan tegaknya kalimat Allah di muka bumi.
 Siapakah yang bertanggungjawab? Jelas, semuanya bertanggungjawab memikul risalah ini. Persatuan umat adalah harga mutlak, apalagi ketika umat semuanya berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah, mengesampingkan perbedaan, karena pada dasarnya tidak ada perbedaan. Antara yang hak dan batil terdapat pembeda yang jelas, tidak bisa dicampurkan satu sama lain.
Marilah kita bersama menyelamatkan umat ini. Kita satukan semua pecahan-pecahannya menjadi satu bangunan utuh, membangun pondasinya dari akar yang kuat, Islam. Kita tidak boleh menjadi lemah, kurang daya apalagi rendah diri. Allah bersama kita.

Madrasah 2 Dzulhijjah 1429.

Jumat, 09 Januari 2009

Arus Balik

Entah hari ini aku begitu tertegun memandang realitas
yang ada. Tersenyum dalam luka yang memerih. Jelas, perih ia rasa dalam duka
yang mendera.



Tidak, bukan dia yang pantas disalahkan atas apa yang
terjadi.



Setidaknya, untuk saat ini.

Esensi

Terlalu banyak...



Yang harus dikerjakan, karena hidup adalah esensi
perjuangan.



Karena dengan berjuang, kita akan tetap hidup.



Tapi, tiada akan keluh terkesah. Karena, hidup
tiadalah hanya tuk mengeluh.



 



24/11/2006 9:26:56

Dewasa adalah pilihan

Dewasa itu adalah sebuah pilihan.
Entah bagaimana bisa kata-kata itu, terpatri dalam benakku. Siapa yang ngomong aku juga tidak tau.
Dewasa itu bagaiimana aku sendiri tidak tau.
Aku cuma pengin satu, hidupku tidak sia-sia, setidaknya bagiku sendiri. Syukur, bagi orang lain.

Kamis, 08 Januari 2009

Qunut Nazilah dan Palestin

Ketika tulisan ini saya mulai, Palestin sedang meradang akut... serangan hari ke-12 Israel. Dunia pun turut menderita.
Maka, pondok berinisiatif untuk mendoakan muslimin Palestin, dengan qunut nazilah setiap kali shalat.

Saya sendiri.. entah apa yang bisa saya kontribusikan...
Tapi saya optimis, dan saya yakin, pertolongan Allah akan datang...
Segera..

Do'a Qunut Nazilah


¨ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ, وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ.


¨ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاَءَ وَالوَبَاءَ وَالفَخْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالمِحَنَ وَالفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.


¨ اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ.


¨ رَبَّناَ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِيْنَ.


¨ رَبَّناَ نَجِّنَا مِنَ القَوْمِ الظَّالِمِيْنَ.


¨ اللَّهُمَّ اكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَمَكْرَ المَاكِرِيْنَ وَشَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.


¨ اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ.


¨ اللَّهُمَّ لاَ تُمَكِّنِ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَنَا.


¨ اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا.


¨ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَصْلِحْ وُلاَةَ المُسْلِمِيْنَ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وِانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الإِسْلاَمِ وَالمُسْلِمِيْنَ.


¨ اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ المُبْتَدِعَةَ المُشْرِكِيْنَ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.


¨ اللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.


¨ رَبَّنَا أَدْخِلْنَا مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنَا مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا.


¨ اللَّهُمَّ أَظْهِرِ الهُدَى وَدِيِنَ الحَقِّ الَّذِي بَعَثْتَ بِهِ نَبِيَّكَ مُحَمَّدًا عَلَى الَّذِيْنَ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ.


¨ اللَّهُمَّ أَبْرِمْ لِهَذَهِ الأُمَّةِ أَمْرَ رُشْدٍ يَعِزُّ فِيْهِ أَهْلَ طَاعَتِكَ وَيَذِلُّ فِيْهِ أَهْلَ مَعْصِيَتِكَ وَيَأْمُرُ فِيْهِ بِالمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى فِيْهِ عَنِ المُنْكَرِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.


¨ اللَّهُمَّ اكْفِ مَعَاهِدَ المُسْلِمِيْنَ وَاصْرِفْ عَنْهَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَمَكْرَ المَاكِرِيْنَ أَيْنَمَا كَانُوْا وَكَيْفَمَا كَانُوْا.


¨ اللَّهُمَّ سَهِّلْ أُمُوْرَنَا وَأُمُوْرَ وَالِدَيْنَا وَأُمُوْرَ مَعَاهِدِ المُسْلِمِيْنَ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضُ.


Jumat, 02 Januari 2009

: [ 0 ]

Aku ingin terbang menuju Pangaea,



Ketika Asia, Eropa, Amerika, Afrika,
Antartika, Australia menjadi satu. Tak ada pemisah. Semuanya satu.

Aku ingin mendaki Puncak Everest.


Menuju ke atap dunia, selangkah lebih dekat kepada langit.


Aku ingin terjun ke dalam Palung Mariana.


Menjauh, menjauh, dari permukaan bumi dan merasakan titik terendahnya.


Aku ingin menerjang badai di Zaman Es.


Biarlah meradang, selagi pemanasan global belum pula datang.



Aku ingin mengendarai dodo, sebelum manusia memburunya... kemudian aku
akan mengembangbiakannya, agar ia tidak punah, dan umat manusia tidak perlu
menanggung dosa karena telah memusnahkannya.

Jauh kemudian, aku ingin ke bulan.


Menuju ke satelit terdekat. Merasakan lautan tenang.


Melebur terbakar, bersama matahari untuk hidup kembali kemudian.



Aku ingin berlarian di Pluto, setelah para ilmuwan mengusirnya dari
jajaran solar sistem.

Aku ingin berkunjung ke semua tempat di alam semesta.


Meskipun aku tahu itu mustahil.


Tapi, ketika bersama-Nya, semua inginku terkabul.



Semua mauku sirna, berganti dengan rasa terhormat, telah menjadi hamba
dari Rabb al-Alamin. Tak ada yang lebih baik.

Menemukan Hati

Di manakah hati akan kau temukan? Ia akan kau temukan dalam shalatmu, tilawahmu, dzikirmu, puasamu, segala ibadahmu. Di situlah akan kau temukan hatimu.
Apabila engkau betul-betul menghadapkan hatimu kepada Al-Barru Ar-Rahiim, kau akan menemukannya. Menemukan eksistensimu yang sesungguhnya.
Eksistensimu sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Jangan matikan ia dengan dunia.
Ia kecil. Hina dan nista.
Jangan taruh ia di dalam hatimu.
Taruhlah ia sebagai alas kakimu.
Kalaulah engkau mengganti hatimu dengan dunia, senantiasa kau akan kekurangan. Kosong.
Itulah dunia.

Madrasah. 12 Dzulqa'dah 1429.10:34

Pagi Ini


Seperti biasa, ada kuliah subuh setelah
jama'ah di masjid pusaka. Ustadz Syarif begitu loyal kepada kami untuk
menyampaikan –tak dapat kupungkiri- makanan hati, begitu istilahku.


Namun, ada yang berbeda pagi ini. Beliau
menyampaikan mengenai kisah nyata yang beliau alami ketika kelas enam dulu.
Menjelang perpisahan, Pak Zar – sebutan populer KH. Imam Zarkasyi pendiri pondok
ini – memberikan secarik kertas kepada beliau untuk menuliskan di atasnya, ke
mana setelah lulus.


Pilihan beliau, adalah mengabdi kepada Kyai,
dengan segala resiko apapun, bahkan disuruh menjadi tukang bersih-bersih pun
beliau mau.

Sebegitunya? Iya.


Pak Syarif meneruskan.



Itu karena beliau percaya pada Pak Zar. Bahwa
selama itu, Pak Zar selalu memperhatikan beliau, menyayangi beliau,
menginginkan yang terbaik untuk beliau.


Pada saat itu, tiba-tiba terjadi supernova
dalam benakku.

Itulah ruh seorang kyai.



Ruh yang nyata, dan terasa melampaui batas
waktu.


Seakan-akan Pak Zar masih hidup di antara
para murid.


Mungkin itu yang beberapa saat ini terbesit
dalam khaatirku.

من أراد بك خيرا...


فإنه أبوك.




Yang menginginkan
kebaikan padamu.



Ada ikatan, ada soul
antara keduanya. Sinergi jiwa, yang saling menguatkan dan bertemu melalui doa.

Alangkah indah.




Itulah kyai.
Sedangkan ustadz – aku tidak mau memakai sayyid, terserah apatah
nantinya – adalah wakil dari kyai untuk menjalankan misi transformasi nilai.


Transformasi nilai,
ilmu, amal, role-mode, dan semua kebaikan.


Betapa mulianya
status ini.

Khalifah dari kyai.




Entah apa yang aku
bicarakan ini.


Tapi aku akui, baru
saja menemukan secercah soul di kelasku sekarang. Pun, soul itu
dariku.


Beberapa orang yang
kuketahui memiliki soul ini, adalah Kyai Syukri, Kyai Hasan dan Kyai
Syamsul. Ustadzku, ayahku, Ali Sarkowi rahimahu Allah. Ustadz Dihyatun
Masqon. Ustadz Syarif. Ustadz Kholid Muslih. Dan masih banyak lagi.

من أراد بي خيرا.


Itulah mereka.



Aku ingin menjadi
seperti mereka.



Itu adalah proses...
tapi proses itu hanya bisa di'pantik', trigged, dengan keinginan dan
kemauan.


Itulah. Iman berarti
keaktifan seseorang dalam mengolah rasa dalam hatinya dengan The Highest
Supreme
.


Percaya, tidak
sekedar percaya, namun ia juga harus aktif.


Karena iman itu berarti
perkembangan.


Madrasah. 12 Dzulqa'dah 1429. 10.05

Saatnya

بسم الله الرحمن
الرحيم



Saatnya terlahir kembali



Sebagai hamba-Nya.



Yang sejati.



 



Entah telah terpaut berapa lamanya kita
dengan Rasulullah.



Shalla Allahu alaihi wa sallama.



 



Bosanlah kita dengan dunia dan gelimang
maksiat serta hati yang terkoyak-koyak



Kita harus kembali kepada-Nya.



 



Tidak ada pilihan lain, dan kita tidaklah
berhak untuk memilih.



 



Allah.



Entah berapa detik kehidupanku, berapa jam,
hari, bulan, tahun telah berlalu.



Dan aku masih juga jauh dari-Mu.



Aku masih menyekutukanmu.



Dengan dunia.



Aku menghambanya, tidak menghamba-Mu.



 



Ya, aku shalat.



Tapi hatiku tidak.



Aku puasa, tapi hatiku tidak.



Aku berzikir, tapi hatiku tidak.



 



Aku mengatakan bahwa aku beriman, tapi tidak
nyatanya.



 



Aku hanya berharap.



Rahmah-Mu.



Yang meliputi segala sesuatu.



Aku pun mengharap ia meliputiku.



Meliputi hatiku yang mengusang terdera fana.



 



Hingga satu saat.



Aku mengharapkan perjumpaan dengan-Mu.



Melihat kepada-Mu.



Kembali kepada-Mu.



Sebagai hamba, yang sebenar-benar hamba.



 



Pada saat itulah.



Nikmat terbesar kurasakan sebagai ciptaan.



Untuk bertemu dengan Penciptanya.



 



Madrasah.



12 Dzulqa'dah 1429.



23:58