Jumat, 25 Desember 2009

Phoenix

Phoenix adalah binatang mitologi. Ia akan terbakar setiap 500 tahun, kemudian bangkit kembali.

Phoenix ibarat harapan.

Harapan mungkin hilang. Pergi menjauh. Padam lalu mati.

Namun ia akan kembali datang. Bangkit. Menyalakan apa yang telah padam.



Kamis, 24 Desember 2009

Hujan Turun!

Akhirnya, hujan turun di Ponorogo. Penantian berakhir.
Langit terlihat ramah hari ini. Dalam hati aku berjanji, aku akan turun ke jalan begitu hujan datang.
Ia datang siang hari. Bau apu- tanah kering yang tersiram hujan- menyapa.
Fa bi ayyi alaai Rabbikumaa tukadzdzibaan.. Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?
Muharram 6

Minggu, 20 Desember 2009

Muharram 1 1431

Tahun baru.

Harapan baru.

Soul baru.

Hijrah.

Kata-kata itu berkelebat dalam kepalaku,

Terjadi supernova.

Sebuah momentum. Sebuah perubahan.

Tidak ada yang lebih baik daripada semangat untuk berubah. Bahkan taubat, memiliki makna perubahan. Terkadang, kita terlalu naif untuk mencari momentum perubahan, menunggu ia datang dan merubah kita. Dan ya, momen itu datang.

Mari kita ubah diri kita, kita perbaiki hati, jiwa dan raga demi sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik.




Kamis, 17 Desember 2009

A Better Day

Need a better day?
Just close your eyes..
Breathe deeply..
Remember your best memories..
Then smile...

GYQYAJ6A2NJ9



Rabu, 16 Desember 2009

Di Ujung Hari

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada malam yang tenang, di mana semua pekerjaan bisa diselesaikan. Pagi hari adalah waktu di mana hiruk pikuk dunia terasa menyesakkan, meskipun itu sebenarnya adalah ritme kehidupan, beat of life.
Sebelum tidur, saya terbiasa memikirkan hal-hal yang menyenangkan, harapan-harapan, cita-cita, kenangan indah, kesemuanya akan membentuk sebuah optimisme dalam jiwa.
Hari pun berlalu, dan esok kan menjelang.

Selasa, 15 Desember 2009

Islam dan Indonesia

Rabi'u Tsani 1430 H baru saja berlalu. Tepat dua tahun aku di kamar ini. Telah banyak yang berubah, baik secara material maupun ma'nawy… aku pun berubah.
Hampir setahun ini, aku bagaikan baru saja melewati proses syahadat, seakan-akan aku adalah seorang muallaf, orang yang baru saja masuk Islam.
Dalam hati aku berkata, aku seorang muslim. Aku bangga dengan itu.
Bagaimana tidak? Setelah perjalanan 21 tahun yang panjang dan melelahkan, akhirnya aku berhasil tiba di destinasi akhirku.
Rabbku.

Aku terlahir sebagai seorang muslim, di sebuah negara non muslim (!) yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam.
Ada yang salah dengan Islam Indonesia?
Islam Indonesia, dapat aku gambarkan sebagai Islam warna-warni, tercampur-aduk dengan mitos, legenda dan hal profan lain. Mungkin secara de jure kami muslim, tapi, secara de facto, entah.. Semoga hanya di Indonesia fenomena itu terjadi.
Islam Indonesia. Kajian unik yang kompleks dan sarat dengan jalan setapak yang berliku, rumit, menyimpan kisah yang lama, yang terkadang menyakitkan untuk dikenang.

Sebagai suatu konklusi, umat harus berbuat sesuatu, untuk menyelamatkan Islam di negara ini, dan di seluruh dunia.
Membangun masyarakat tauhid, bukanlah hal yang mudah. Ia memerlukan basis yang kuat, kemauan serta optimisme akau terwujudnya tujuan ini. Pun, membangun ukhuwah antar muslim, karena dengan timbulnya ukhuwah, timbul kebersamaan dalam Islam.

و الله أعلم

Madrasah, 4 Jumadal Ula 1430

Ketika Dia Pergi

Entah, kenapa, tapi bayangannya begitu melekat di sanubari. Bayangan, seseorang yang benar-benar aku merindukannya.

Sebuah al-matsal al-kamil. Ya, permisalan yang lengkap. Seorang uswah, telah pergi.

Kultus individu? Bukan.

Aku hanya ingin meniru jalannya. Jalannya sebagai seorang hamba di hadapan Allah.

Di tengah keringnya jiwa yang tergerus oleh abad, sosok seseorang yang shalih sangat menyegarkan… di tengah hedonisme, ada kesederhanaan… Di tengah keramaian, ada ketenangan.

Subhanallah,

Walhamdu Lillah

Wa laa ilaaha illa Allah,

Wallahu akbar..

 

Ya Allah, tempatkanlah ia di sisi-Mu, yang penuh dengan kemuliaan.

Dan pertemukanlah aku dengannya, di kehidupan yang nanti, yang aku nanti kedatangannya, setelah fana ini.

Amin.


Obituari untuk KH. Ali Sarkowi, Wafat 25 Ramadhan 1428 Hijriyah.



Minggu, 13 Desember 2009

Stay Alive!

Tetap bertahan, di kala angin menerpa.

Tetap bertahan, saat musibah menyapa.

Tetap berdiri tegak, saat ujian mendera.

 

Kamu terlalu berharga untuk jatuh.

Terlalu mulia untuk menjadi hina.

Terlalu manusia untuk tidak dimanusiakan.

 

Berdiri tegak, menjunjung kalimat-Nya.

La Ilaaha Illa Allah.

 

Kenapa harus kalah, oleh zaman yang menipu?

Kenapa harus lengah di tengah ketenangan?

Kenapa harus sedih, bila masih ada nikmat untuk disyukuri?

Kenapa melupakan apa yang diberi oleh Penciptamu?

Mata, hati, telinga, akal, indera, kenapa kau melupakannya?



Hari Keempat Ramadhan 1430

Pada hari keempat ramadhan ini…

Tanpa kusadari, pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam diriku mengenai esensi, hakikat, renungan-renungan, … menyelam ke dalam samudera jiwa.

tiba-tiba terdengar suara garengpung, serangga yang menandakan pergantian musim, teramat merdu didengar.

Aku tidak ingin ramadhan cepat berlalu, begitu saja.

Aku ingin menjadikannya penuh makna.

Aku ingin perubahan, maka aku harus merubah diriku.

Tidak ada yang lebih membahagiakanku, selain bertemu dengan Rabbku.

Penciptaku.

Tapi, haruskah aku menemui-Nya dalam keadaan penuh nista?

Ketahuilah bahwa dunia adalah dua sisi kehidupan. Baik dan buruk.

Mana yang kau pilih? Terserah.

Apakah kau akan mengikuti hidayah, atau meninggalkannya?

Aku lebih cenderung memilih, bahwa tauhid  berarti pembebasan.

Pembebasan diri, dari penyembahan selain Allah. Dari sesama manusia.

Jangan sombong. Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Kamu tidak punya hak untuk sombong, sedikitpun.

Kalau kamu sombong, maka engkau mencoba untuk mengenakan apa yang tidak pantas bagimu, Kibriyaa'.

Karena Kibriyaa' hanya milik Allah, Al-Khaliq, bukan milik makhluq.

Jangan menyakiti hati orang lain.

Orang lain adalah saudara bagimu, seperti apapun ia. Apalagi, sesama orang muslim.



Deja Vu

Mengingat adalah hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap orang. Ia harus mengingat, karena ia pelupa.

Ia memiliki keterbatasan dalam ingatan.

Suatu saat, ketika mengingat sesuatu, syarafnya akan bergerak menuju ke visualisasi… suatu kelebihan manusia, mampu bervisualisasi.

Teringat, teman-teman, sahabat, masa lalu, hal-hal yang baik maupun buruk.

Ingatlah.

Karena, ingatan yang kabur akan membawa kepada dorongan untuk menciptakan hal yang serupa, bahkan lebih baik.

Childhood memories.

Sesuatu yang strange dan strengthen.

Strange, karena telah terlupakan, tapi begitu dirindukan.

Strengthen, karena ia menguatkan.

Menguatkan kita bahwa, kita pernah mengalami masa-masa yang menyenangkan di masa lalu.

Sepahit apapun, pasti masih ada secuil kenangan manis di antara tumpukan tangis dan perih. Entah itu baik ataupun buruk.

Ingatlah.

Ingatlah, betapa Tuhanmu telah berbaik hati kepadamu.

Dalam setiap nafas dan derapmu.

 

Syukurilah.



Rabu, 01 Juli 2009

Kita dan Latah

Latah adalah kebiasaan meniru sesuatu, biasanya perbuatan, perkataan, tren, atau hal-hal yang terlihat oleh mata.


Latah biasanya tercipta dari bawah sadar, tanpa kita nyana dan ngeh, kita memang cenderung untuk latah.


Kenapa latah? Banyak tujuannya. Agar tercipta imej 'keren', karena mengikuti tren. Agar tidak 'out-of-date' atau ketinggalan zaman. Dan alasan-alasan lainnya.


Jujur, saya melihat fenomena beberapa penamaan tempat, baik itu perumahan, pertokoan, pusat kegiatan, atau apapun itu yang disertai dengan istilah luar, yang saya maksud di sini british, adalah kelatahan tersendiri yang unik dan menggelitik.


City, square, town, grand, international, center, dan istilah-istilah asing lainnya. Apa maksud dari penamaan ini? Apakah dengan memakai label itu telah menjamin kualitasnya?


Mungkin dengan seenaknya generasi sekarang memberikan nama-nama itu, tapi lihatlah efeknya beberapa tahun ke depan. Akan lahir generasi yang hidup di timur, tapi lebih kebarat-baratan dalam gaya hidupnya. Atau mungkinkah, kita adalah generasi tersebut?





Selasa, 28 April 2009

I'm tired of this…

Beberapa saat lalu, ketika sedang browsing tiba-tiba sampai ke halaman berikut, dan akhirnya menemukan sebuah 'dialog antar agama' yang cenderung … entahlah… saya hanya dapat berkomentar seadanya saja…
Salam,
errr.... saya tidak tahu dari mana harus memulai, tapi saya ingin mengenalkan diri saya. Saya seorang muslim sejak lahir, Alhamdulillah. Pertentangan agama memang hal yang sudah lazim terjadi, namun, tentu saja, dengan menggunakan etika. Sebagai umat Islam, kita tidak dibenarkan untuk menghina kepercayaan orang lain, yang mana memang kita tidak percaya-karena ia akan ganti membalas menghina. Perhatikan: apabila anda menghina kepercayaan agama orang lain, bayangkan apabila hal itu terjadi pada diri anda, apakah anda terima agama anda dihina, diinjak-injak? Jawaban telah terdengar dari lubuk hati: tentu tidak.
Sampai kapankah ini berakhir? Allah a'lam, Ia lebih mengetahui.
KEbenaran itu mutlak, harga yang tak tertawar dan terkompromi. Ia dari Allah. Kita harus yakin itu.
Marilah, kita buka pintu dialog secara rasional, dan terbuka, tanpa harus ada caci-maki terucap.
Kalaulah dialog itu telah sampai pada akhirnya, kita hanya bisa mendoakan agar orang yang kita ajak dialog terbuka hatinya.
Ingat, da'wah ada tiga cara, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an: dengan hikmah, nasihat, dan dialog yang baik.
Mari kita akhiri caci-maki ini, energi kita lebih diperlukan untuk maslahat umat. Umat ini lebih memerlukan pemimpin-pemimpin Islam yang berkarakter kuat, daripada sekedar pencaci maki yang tidak karuan.
Mungkin bagi anda yang membaca komentar ini kemudian berpendapat lain, terserah.
Hanya satu hal yang pasti, kebenaran itu suatu hal yang mutlak.
Allahu a'lam.



Jumat, 17 April 2009

Sub Zero

Tutuplah mata dan dengar. Dengarkan alam sekitar, manusia di sekelilingmu, hal-hal yang membuatmu resah, dan hal-hal yang kau rindukan. Menyatulah dengan alam. Menyatulah dengan semesta. Nikmatilah ketenangan ini, karena ia hanya sesaat, namun begitu berarti.
Inilah waktu di mana ujung-ujung syaraf menjadi peka terhadap hal-hal yang baru, inspirasi. Dan di waktu cahaya inspirasi tersebut datang, seluruh jaringan tubuh akan bereaksi terhadapnya, hati terbangkitkan dari sekarat, akal akan menemukan ide baru, jiwa akan menjadi segar, tubuh kembali muda, dan pada akhirnya akan tercetus, inilah saatnya!
Itulah fitrah manusia, sebagai makhluk rasional. Namun, adakah dia pernah memikirkan, merenungkan, dari mana asal inspirasi, ilham, ide tersebut? Sekalikah ia ingin mengetahui, mengenali, siapa yang memberikannya?
Suatu ketika, akan datang kepadanya sebuah antitesis, paradoks. Paradoks, kebalikan, lawan, dari keadaan inspirasi. Ketika didatangkan kepadanya cobaan, bencana, musibah, ujian. Seluruh jiwanya akan merapuh, tubuhnya akan menua, akal berantakan, terbentur dengan kenyataan. Kemudian muncul satu sentakan. Kenapa?
Itulah sifat dasar manusia. Berubah-ubah, tidak tetap, relatif, nisbi dan tidak mutlak.
Dalam hidupnya, manusia berada dalam suatu pencarian yang besar, pencarian agung akan hakikat kehidupan. Pencarian tersebut bisa sesaat, namun bisa jadi menahun, bahkan seumur hidup, atau bahkan, sangat disayangkan apabila sampai ia menutup hidupnya, ia belum sampai kepada hakikat dari kehidupan yang diembannya.
Hakikat kehidupan bisa beragam di mata manusia, keberagaman tersebut menciptakan perbedaan pandangan, keinginan, hasrat, dan tujuan. Muncullah darinya kebudayaan, peradaban, tokoh, yang berlainan.
Namun sesungguhnya, akhir pencarian adalah kenyataan dari keberadaannya. Dengan kata lain, akhirnya adalah awal. Apa entitasnya di dunia ini? Tidak lain, adalah sebagai hamba-Nya, Pencipta segala sesuatu.
Itulah hakikat kehidupan. penghambaan dan pengabdian total kepada Al-Hayyu Al-Qayyum. Entitas Tertinggi. Dzat dengan segala kesempurnaan, tiada kekurangan.
Apabila manusia telah menemukan hakikat dari kesemuanya, tentang apa yang di belakang yang tampak, tentang kenyataan akan pendalaman metafisis atas dunia fana. Bahwa di belakang yang nampak ini, dengan segala keteraturan penciptaan, ada Pencipta dengan segala kemurahan, menciptakan semesta ini.
Cintailah Ia, maka Ia akan lebih mencintaimu. Datanglah kepada-Nya, Ia akan datang lebih dekat darimu. Mintalah pada-Nya, engkau  akan diberi oleh-Nya.
Segala keresahan, kemarahan, kegundahan, dan hal-hal yang bersifat muhdats, berubah, tidak kekal, fana, akan hilang dengan segera. Ia adalah Al-Baqiy, Al-Qadiim, Al-Awwal dan Al-Akhir. Kepada siapa harusnya kita mencintai. Karena Ia adalah cinta hakiki. Tidak akan terhapus oleh zaman, tergerus oleh waktu, dan merapuh oleh masa.
Bukalah matamu dan lihatlah. Hal-hal di sekelilingmu. Entitas dan eksistensi bertebaran. Ayat-ayat Rabbmu. Ayat-ayat yang nyata, bukti keberadaan dan kebesaran Pencipta.
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana engkau dustakan?

Pohon Kejadian

Aku teringat beberapa tahun lalu, pernah membaca buku yang berjudul “syajaratul kaun”, pohon kejadian. Buku itu memaparkan mengenai hal-hal yang ada di dunia ini, kejadian-kejadian, hal-hal yang mungkin terlewatkan oleh kita.
Entah sampai sekarang di mana buku itu, tapi yang jelas buku tersebut pada akhirnya membangkitkan sesuatu yang selama ini tertidur lelap dalam benakku.
Kejadian, penciptaan, entitas, being.
Hanya Ia yang menguasainya.
Bahwa dalam setiap hela nafas, denting nada, detak jantung, kilatan mata, aliran darah, adalah kaun.
Kaun yang nyata.
Kaun yang merupakan aayat.
Setiap siratan warna, adalah kaun.
Gelombang.
Arus. Hawa. Foton. Gravitasi. Energi. Materi. Antimateri.
Kesemuanya adalah kaun.
Neutron, elektron, proton, quark, meson. Kesemuanya kaun.
Apa yang membutakan mata dari kenyataan yang benar-benar nyata ini?
Kembalilah.
Ingatlah.
Berzikirlah.
Sujudlah untuk Dzat-Nya.
Sebutlah nama-Nya, fajarmu dan petangmu.
Maka Ia akan memberikanmu pintamu, dan mengabulkan doamu.
Ialah Ahad.
Jadilah hamba yang sejati, yang hanya menyembah kepada-Nya.
Dan cukuplah bagimu, Allah.
حسبك رب الجلال والإكرام
Madrasah
20 Jumadal Ula 1429
for someone who lost his way, find it. Find Him, He will guide you the straight way.

Kamis, 26 Maret 2009

Manusia Langit

manusia langit, yang turun ke bumi. Memberikan cahaya. Menyinari dunia.
Idealismenya adalah Islam. Komitmennya adalah Islam.
Cahayanya adalah hidayah, petunjuk dari Allah. Dengannya adalah Al-Qur'an, dan As-Sunnah. Itulah ilmunya. Memandang segala sesuatu dengan utuh, tidak parsial, tidak memihak, ataupun memvonis.
Dalam lidahnya, nama Allah tersebut. hatinya disibukkan oleh dzikir.

Ini adalah gambaran... yang aku jauh sekali darinya. Tapi, Bismillah, aku ingin mendekat setapak kepadanya.


diam...

diam menyelesaikan banyak masalah. Karena dengan diam, marah terobati.
Dengan diam, strategi terancang.
Dengan diam, pikiran tenang.
Dengan diam, dzikir tersebut.
Dengan diam, dalam diam.
Diam.


Dzikir

mengapa dzikir begitu sulit untuk ditetapkan di hati?
Apakah hati ini telah menjadi begitu keras untuk mengingat Penciptanya?
Ataukah kesombongan diri yang melindas kenyataan?
اللهم أعنا على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك...

Shafar 12

Hujan

pagi ini 5.30, hujan turun.
Hujan adalah perwujudan dari rahmat Allah yang teramat luas dan tak terhingga.
Bagaimana tidak, setiap makhluk hidup memerlukan hujan. Bukan hanya tetumbuhan. Bahkan bumi merindukan turunnya hujan. Ia tunjukkan kerinduannya dengan mengeras, mencadas dan bahkan meretak, untuk kemudian luluh kembali, menjadi subur kembali ketika hujan menyentuh permukaannya. Hujan. Meskipun dibahas berkali-kali, ia tetap keajaiban alam.
Shafar 13

Nasihat Dari Masa Lalu

Le,

Kowe kuwi dudu sopo-sopo, cah wingi sore, ojo dumeh, lan ojo gumunan.
Kowe kuwi sejatine makhluke Gusti Pangeran. Eling-elingo kuwi sak umur kowe urip.
Nyuwuno, ndungaa, karo Gustimu.
Ojo njaluk saka manungsa liya.
Ojo keblinger karo dunya. Dunya kuwi setithik, akhirat kuwi ora ana batese.
Matura nuwun karo Gustimu.
Wis akeh sing didadekne kanggo kowe.
Maca shalawat sing akeh kanggo Kanjeng Nabimu.
Ojo wedhi karo liyane Gusti Pangeranmu. Ojo nganti kowe wedhi karo podho manungsane.
Le, uripmu kuwi sisan. Gawe uripmu ning kabecikan, ojo ala. Lak wis teko wektune, uripmu mari.

sebagai orang jawa, saya banyak menerima pelajaran falsafah kehidupan, baik dari keluarga ataupun orang lain... terima kasih untuk semua. Jazakumullah. 


tengah malam, shafar 23

saat ini tengah malam shafar 23.
Setelah ini aku ingin tahajjud.
Tadi, setelah maghrib aku langsung ketiduran...

Perubahan.
Itu yang sekarang ingin kulakukan.
Diri.
Sekitar.
Saya tidak mau berubah, buat apa saya merubah diri sendiri kalau orang sekitar tidak berubah? – Ustadz Yusuf Mansur –

Berubah, dari hal yang kecil saja.
Kerjaan misalkan.
Menjadi orang lain adalah masalah tersendiri.
Seseorang harus menjadi dirinya sendiri, bukan orang lain.
Hanya satu.
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Ialah uswah hasanah.

Kebahagiaan religiusnya adalah berupa pemenuhan atas perintah Ilahi  – MM. Al-Zabidi, Taj-ul-'Arus, dari Isma'il  Raji Al-Faruqi, Tauhid–


Seorang manusia harus bisa menjaga kedekatannya dengan Allah.
Karena semakin jauh, semakin ia kehilangan nilai-nilai Ilahiyyah, semakin ia tersesat.
Dari sinilah seorang muslim bergerak.
Menemukan jati dirinya.
Mencari jalan.
Namun, ia tidak perlu ke mana-mana, karena jalan itu telah tepat terpatri di depannya. Ialah Islam.
Namun pemahaman Islam  secara fisik akan membawa kepada kekeringan jiwa. Ia tak ubahnya orang yang melihat suatu bangunan dari luar. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar berupa tembok tinggi, sehingga menutupi pandangan. Setiap hari, ia melihat bangunan tersebut, dan begitulah ia setiap hari. Ia tidak pernah masuk ke dalam pagar itu.
Lama kelamaan, ia bosan dengan pagar tersebut. Ia mulai mengkritik, kenapa pencipta pagar tersebut begitu monoton seleranya, tidak memberikan dekorasi atau apapun yang bisa memberikan nuansa lain...
Namun begitu ia masuk ke dalam pagar tersebut, ia baru menyadari, bahwa yang dilihatnya hanyalah luar saja, bukan dalamnya....
Wallahu a’lam.

Shafar 23, 01:18

Terima kasih untuk sayyid Isma’il Raji Al-Faruqi al-marhum. جزاكم الله خيرا
 


Ujian Loyalitas

Setiap ujian yang Allah berikan adalah ujian loyalitas.
Loyalitas kepada Allah.
Loyalitas kepada Rabb.
Apakah kita akan bersabar. Bertahan. Menjadi hamba yang lebih baik.
Menjadi seseorang yang rabbaniy. Seseorang yang dinisbatkan kepada Rabb.
Alangkah indahnya.

Blogging dan idealisme

alasan?
ok, kita semua butuh alasan untuk blog. Apapun alasannya, yang pasti hanya satu: idealisme.
Blogging adalah idealisme.
Karena tanpa idealisme, blog hanya lembaran-lembaran kosong yang hanya dikejar demi meraih 'dollar per click' atau page rank yang tinggi di alexa maupun google. Berorientasi kepada link-link yang ditukar-tukar... whatta..
Memulai blog sebenarnya bagi saya adalah keisengan saja...dengan segala kesibukan yang ada, mungkin blogging adalah kerjaan bagi orang ga ada kerjaan, mungkin begitu beberapa kolega berpendapat...
Namun, lama kelamaan... idealisme muncul, untuk menciptakan blog yang eksis. Blog yang merupakan citizen journalism. Blog yang tanpa tekanan bercerita. Mampu memberikan kontribusi, setidaknya bagi penulis blog sendiri.
Blog adalah sejarah yang kita ukir di atas keyboard, selagi blog itu berada di atas kebenaran.

22 Rabi'ul awwal.

Senin, 16 Maret 2009

Synchronize Yourself

kita membutuhkan sinkronisasi dengan alam semesta. Tanpa sinkronisasi, hidup adalah suatu perlawanan terhadap alur semesta. ketika kita melawan semesta, segalanya akan kacau. Namun, sebagai makhluk yang memiliki ego ( atau egois?) kita mempunyai pendapat tersendiri. Kita sebagai manusia memiliki alasan untuk melakukan segala sesuatu. Entah itu benar, ataupun salah. Siapa bilang benar dan salah itu relatif? mungkin orang yang beberapa waktu lalu pusing dengan realitas yang terjadi di dunia... kemudian dengan serta merta menyimpulkan. Hmm... Terlebih, kita membutuhkan sinkronisasi dengan Pencipta Alam Semesta. Mengakui ketuhanan Allah. Ilahiyyah-Nya. Senantiasa mengingat-Nya. Mengagungkan dan menyebut nama-Nya. Melakukan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang. Itulah manifestasi dari iman dan taqwa.

Lihatlah langit.

Siapa yang mendirikannya? Bandingkan dengan gedung pencakar langit. tidakkah terbesit untuk mengakui bahwa langit memiliki Pencipta? Musabbibu-l-Asbaab? Pencipta segala sebab kejadian? Sementara itu, manusia semakin liar dengan egonya. Dengan berteorikan evolusi dan 'survival for the fittest', yang berlanjut kepada 'we need no such creator', ia menyimpulkan : 'there is probably no god : now stop worrying and enjoy your life'... Entah kemana akalnya.

نعوذ بالله من ذلك..



Akhirul kalam, seorang manusia membutuhkan agama sebagai idealismenya, dan satu-satunya agama yang benar adalah Islam. Tidak percaya? Tidak apa-apa. Antara yang benar dan salah telah terpisah dengan nyata. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka ia telah memiliki pegangan kuat, idealisme utuh, yang tak akan luntur diterpa zaman. Lihat Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 256:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)



Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut(^) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (^) Thaghut: ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah swt.

والله أعلم بالصواب



Madrasah, 17 Rabi'ul Awwal 1430.

Rabu, 14 Januari 2009

Pasti

Pasti? Apakah ada hal yang pasti mutlak? Tidak.
Karena tidak ada yang kekal. Tidak ada yang pasti. Tidak ada yang mutlak.
Kita akan berubah, kita akan menua, kita akan mati. Itulah proses. Tidak ada yang kekal. Tidak ada yang tidak berubah.
Kecuali Allah.

Waktu

Sejenak aku berharap bahwa waktu akan terhenti mesti sesaat. Tapi ternyata tidak. Waktu terus melaju, menggilas apapun yang terhenti menghalang. Terkesiap aku melihat kenyataan. Waktu kan terus berputar. Tiada apapun yang dapat menghentikan, kecuali kehendak Penciptanya.
Aku harus terus melaju, bersama sang waktu.

Sebuah Ultimatum Bagi Umat


Ketika abad ke-15 Hijriyah datang, umat Islam dari segenap penjuru dunia menyerukan harapan akan datangnya masa keemasan Islam kembali. Namun, kembalinya masa keemasan memerlukan harga yang mahal untuk ditebus.
Umat Islam, selama belum berpegang pada apa yang diwariskan Rasulullah shalla Allah 'alaihi wa sallam, Al-Qur'an dan sunnah, tidak akan pernah mencapai kejayaannya.
Selagi kaum muslimin masih berseteru satu sama lain, mengalami konflik internal, mendahulukan kepentingan pribadi, berlomba-lomba dalam keduniaan, jangan pernah sekalipun berharap Islam keluar dari krisis.
Hal sedemikian pernah disampaikan oleh Rasulullah shalla Allah 'alaihi wa sallam, bahwa akan ada satu penyakit yang akan menjangkiti umat ini, yakni penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati.
Keruntuhan khilafah terakhir, Khilafah Utsmaniyyah, merupakan pukulan telak bagi umat Islam. Dengan tiadanya khilafah, maka Islam tidak memiliki izzah. Selamanya akan dijajah bangsa lain, agama lain, tuhan lain.
Kembali kepada Islam yang benar, Islam yang asli, Islam Rasulullah shalla Allah 'alaihi wa sallam, dan  sahabat. Bukan Islam yang telah tercerabut dari akarnya. Islam yang telah berpaling dari akhirat. Apakah agama saya? Islamkah? Islam yang bagaimana? Sudah benarkah Islam saya? kita harus bertanya seperti itu pada diri kita masing-masing. Islam adalah kaaffah, menyeluruh, komprehensif, menyentuh semua aspek kehidupan, baik secara umum bahkan sampai pada detailnya. Islam tidak hanya syahadat, shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, haji, dan zakat saja, karena kesemua ibadah apabila dilakukan begitu saja, tanpa dihayati dan ikhlas untuk Allah, hanya sebatas itu saja. Berapa banyak kita lihat umat mendirikan shalat, berhaji, namun kelakuannya tidak berbeda dengan orang kafir, bahkan lebih rendah darinya? Umat ini, benar-benar sedang dalam krisis identitas. Apakah saya muslim yang hakiki? Sudahkah saya ikhlas dalam beribadah? Tanyalah pada diri masing-masing.
Kita tidak dapat memungkiri bahwa gencarnya westernisasi turut menerpa kita, kita pun tersapu oleh gelombangnya. Barat mengklaim dirinya sebagai penduduk dunia nomor satu, kita setelahnya, bahkan  setingkat di bawahnya. Timbulah inferioritas umat. Umat merasa rendah, melihat kebudayaan Barat. Maka terbesit untuk mengikutinya, menjadi konsumen dari produk-produk buatannya, menjadikannya sebagai peradaban alternatif, bahkan rela berganti identitas.
Akankah kita terus-menerus silau melihat Barat, tanpa melihat kebobrokan di dalamnya? Ketika makalah ini sedang ditulis, krisis ekonomi sedang melanda Amerika Serikat, negara yang selama ini dianggap sebagai negara adidaya. Arogansi Barat dan superioritasnya jatuh. Sudah waktunya umat bangkit.
Satu-satunya peradaban yang paling sesuai bagi umat manusia hanyalah Islam, bukan peradaban lain. Islam telah disempurnakan oleh Allah, haruskah kita meragukannya? Tegaknya Islam, berarti tegaknya kalimat Allah. Dengan itu, seluruh umat manusia akan bisa diselamatkan.
Umat Islam adalah umat terbaik, yang pernah ada bagi umat manusia. Hal itu telah termaktub dengan nyata dalam Al-Qur'an. Akan tetapi, syarat sebagai umat terbaik adalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan, serta beriman kepada Allah. Sudahkah umat ini menjadi golongan tersebut?
Tidak akan pernah ada kata putus asa untuk mewujudkan tegaknya kalimat Allah di muka bumi.
 Siapakah yang bertanggungjawab? Jelas, semuanya bertanggungjawab memikul risalah ini. Persatuan umat adalah harga mutlak, apalagi ketika umat semuanya berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah, mengesampingkan perbedaan, karena pada dasarnya tidak ada perbedaan. Antara yang hak dan batil terdapat pembeda yang jelas, tidak bisa dicampurkan satu sama lain.
Marilah kita bersama menyelamatkan umat ini. Kita satukan semua pecahan-pecahannya menjadi satu bangunan utuh, membangun pondasinya dari akar yang kuat, Islam. Kita tidak boleh menjadi lemah, kurang daya apalagi rendah diri. Allah bersama kita.

Madrasah 2 Dzulhijjah 1429.

Jumat, 09 Januari 2009

Arus Balik

Entah hari ini aku begitu tertegun memandang realitas
yang ada. Tersenyum dalam luka yang memerih. Jelas, perih ia rasa dalam duka
yang mendera.



Tidak, bukan dia yang pantas disalahkan atas apa yang
terjadi.



Setidaknya, untuk saat ini.

Esensi

Terlalu banyak...



Yang harus dikerjakan, karena hidup adalah esensi
perjuangan.



Karena dengan berjuang, kita akan tetap hidup.



Tapi, tiada akan keluh terkesah. Karena, hidup
tiadalah hanya tuk mengeluh.



 



24/11/2006 9:26:56

Dewasa adalah pilihan

Dewasa itu adalah sebuah pilihan.
Entah bagaimana bisa kata-kata itu, terpatri dalam benakku. Siapa yang ngomong aku juga tidak tau.
Dewasa itu bagaiimana aku sendiri tidak tau.
Aku cuma pengin satu, hidupku tidak sia-sia, setidaknya bagiku sendiri. Syukur, bagi orang lain.

Kamis, 08 Januari 2009

Qunut Nazilah dan Palestin

Ketika tulisan ini saya mulai, Palestin sedang meradang akut... serangan hari ke-12 Israel. Dunia pun turut menderita.
Maka, pondok berinisiatif untuk mendoakan muslimin Palestin, dengan qunut nazilah setiap kali shalat.

Saya sendiri.. entah apa yang bisa saya kontribusikan...
Tapi saya optimis, dan saya yakin, pertolongan Allah akan datang...
Segera..

Do'a Qunut Nazilah


¨ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ, وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ.


¨ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاَءَ وَالوَبَاءَ وَالفَخْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالمِحَنَ وَالفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.


¨ اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ.


¨ رَبَّناَ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِيْنَ.


¨ رَبَّناَ نَجِّنَا مِنَ القَوْمِ الظَّالِمِيْنَ.


¨ اللَّهُمَّ اكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَمَكْرَ المَاكِرِيْنَ وَشَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.


¨ اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ.


¨ اللَّهُمَّ لاَ تُمَكِّنِ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَنَا.


¨ اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا.


¨ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَصْلِحْ وُلاَةَ المُسْلِمِيْنَ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وِانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الإِسْلاَمِ وَالمُسْلِمِيْنَ.


¨ اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ المُبْتَدِعَةَ المُشْرِكِيْنَ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.


¨ اللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.


¨ رَبَّنَا أَدْخِلْنَا مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنَا مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا.


¨ اللَّهُمَّ أَظْهِرِ الهُدَى وَدِيِنَ الحَقِّ الَّذِي بَعَثْتَ بِهِ نَبِيَّكَ مُحَمَّدًا عَلَى الَّذِيْنَ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ.


¨ اللَّهُمَّ أَبْرِمْ لِهَذَهِ الأُمَّةِ أَمْرَ رُشْدٍ يَعِزُّ فِيْهِ أَهْلَ طَاعَتِكَ وَيَذِلُّ فِيْهِ أَهْلَ مَعْصِيَتِكَ وَيَأْمُرُ فِيْهِ بِالمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى فِيْهِ عَنِ المُنْكَرِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.


¨ اللَّهُمَّ اكْفِ مَعَاهِدَ المُسْلِمِيْنَ وَاصْرِفْ عَنْهَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ وَمَكْرَ المَاكِرِيْنَ أَيْنَمَا كَانُوْا وَكَيْفَمَا كَانُوْا.


¨ اللَّهُمَّ سَهِّلْ أُمُوْرَنَا وَأُمُوْرَ وَالِدَيْنَا وَأُمُوْرَ مَعَاهِدِ المُسْلِمِيْنَ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضُ.


Jumat, 02 Januari 2009

: [ 0 ]

Aku ingin terbang menuju Pangaea,



Ketika Asia, Eropa, Amerika, Afrika,
Antartika, Australia menjadi satu. Tak ada pemisah. Semuanya satu.

Aku ingin mendaki Puncak Everest.


Menuju ke atap dunia, selangkah lebih dekat kepada langit.


Aku ingin terjun ke dalam Palung Mariana.


Menjauh, menjauh, dari permukaan bumi dan merasakan titik terendahnya.


Aku ingin menerjang badai di Zaman Es.


Biarlah meradang, selagi pemanasan global belum pula datang.



Aku ingin mengendarai dodo, sebelum manusia memburunya... kemudian aku
akan mengembangbiakannya, agar ia tidak punah, dan umat manusia tidak perlu
menanggung dosa karena telah memusnahkannya.

Jauh kemudian, aku ingin ke bulan.


Menuju ke satelit terdekat. Merasakan lautan tenang.


Melebur terbakar, bersama matahari untuk hidup kembali kemudian.



Aku ingin berlarian di Pluto, setelah para ilmuwan mengusirnya dari
jajaran solar sistem.

Aku ingin berkunjung ke semua tempat di alam semesta.


Meskipun aku tahu itu mustahil.


Tapi, ketika bersama-Nya, semua inginku terkabul.



Semua mauku sirna, berganti dengan rasa terhormat, telah menjadi hamba
dari Rabb al-Alamin. Tak ada yang lebih baik.

Menemukan Hati

Di manakah hati akan kau temukan? Ia akan kau temukan dalam shalatmu, tilawahmu, dzikirmu, puasamu, segala ibadahmu. Di situlah akan kau temukan hatimu.
Apabila engkau betul-betul menghadapkan hatimu kepada Al-Barru Ar-Rahiim, kau akan menemukannya. Menemukan eksistensimu yang sesungguhnya.
Eksistensimu sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Jangan matikan ia dengan dunia.
Ia kecil. Hina dan nista.
Jangan taruh ia di dalam hatimu.
Taruhlah ia sebagai alas kakimu.
Kalaulah engkau mengganti hatimu dengan dunia, senantiasa kau akan kekurangan. Kosong.
Itulah dunia.

Madrasah. 12 Dzulqa'dah 1429.10:34

Pagi Ini


Seperti biasa, ada kuliah subuh setelah
jama'ah di masjid pusaka. Ustadz Syarif begitu loyal kepada kami untuk
menyampaikan –tak dapat kupungkiri- makanan hati, begitu istilahku.


Namun, ada yang berbeda pagi ini. Beliau
menyampaikan mengenai kisah nyata yang beliau alami ketika kelas enam dulu.
Menjelang perpisahan, Pak Zar – sebutan populer KH. Imam Zarkasyi pendiri pondok
ini – memberikan secarik kertas kepada beliau untuk menuliskan di atasnya, ke
mana setelah lulus.


Pilihan beliau, adalah mengabdi kepada Kyai,
dengan segala resiko apapun, bahkan disuruh menjadi tukang bersih-bersih pun
beliau mau.

Sebegitunya? Iya.


Pak Syarif meneruskan.



Itu karena beliau percaya pada Pak Zar. Bahwa
selama itu, Pak Zar selalu memperhatikan beliau, menyayangi beliau,
menginginkan yang terbaik untuk beliau.


Pada saat itu, tiba-tiba terjadi supernova
dalam benakku.

Itulah ruh seorang kyai.



Ruh yang nyata, dan terasa melampaui batas
waktu.


Seakan-akan Pak Zar masih hidup di antara
para murid.


Mungkin itu yang beberapa saat ini terbesit
dalam khaatirku.

من أراد بك خيرا...


فإنه أبوك.




Yang menginginkan
kebaikan padamu.



Ada ikatan, ada soul
antara keduanya. Sinergi jiwa, yang saling menguatkan dan bertemu melalui doa.

Alangkah indah.




Itulah kyai.
Sedangkan ustadz – aku tidak mau memakai sayyid, terserah apatah
nantinya – adalah wakil dari kyai untuk menjalankan misi transformasi nilai.


Transformasi nilai,
ilmu, amal, role-mode, dan semua kebaikan.


Betapa mulianya
status ini.

Khalifah dari kyai.




Entah apa yang aku
bicarakan ini.


Tapi aku akui, baru
saja menemukan secercah soul di kelasku sekarang. Pun, soul itu
dariku.


Beberapa orang yang
kuketahui memiliki soul ini, adalah Kyai Syukri, Kyai Hasan dan Kyai
Syamsul. Ustadzku, ayahku, Ali Sarkowi rahimahu Allah. Ustadz Dihyatun
Masqon. Ustadz Syarif. Ustadz Kholid Muslih. Dan masih banyak lagi.

من أراد بي خيرا.


Itulah mereka.



Aku ingin menjadi
seperti mereka.



Itu adalah proses...
tapi proses itu hanya bisa di'pantik', trigged, dengan keinginan dan
kemauan.


Itulah. Iman berarti
keaktifan seseorang dalam mengolah rasa dalam hatinya dengan The Highest
Supreme
.


Percaya, tidak
sekedar percaya, namun ia juga harus aktif.


Karena iman itu berarti
perkembangan.


Madrasah. 12 Dzulqa'dah 1429. 10.05

Saatnya

بسم الله الرحمن
الرحيم



Saatnya terlahir kembali



Sebagai hamba-Nya.



Yang sejati.



 



Entah telah terpaut berapa lamanya kita
dengan Rasulullah.



Shalla Allahu alaihi wa sallama.



 



Bosanlah kita dengan dunia dan gelimang
maksiat serta hati yang terkoyak-koyak



Kita harus kembali kepada-Nya.



 



Tidak ada pilihan lain, dan kita tidaklah
berhak untuk memilih.



 



Allah.



Entah berapa detik kehidupanku, berapa jam,
hari, bulan, tahun telah berlalu.



Dan aku masih juga jauh dari-Mu.



Aku masih menyekutukanmu.



Dengan dunia.



Aku menghambanya, tidak menghamba-Mu.



 



Ya, aku shalat.



Tapi hatiku tidak.



Aku puasa, tapi hatiku tidak.



Aku berzikir, tapi hatiku tidak.



 



Aku mengatakan bahwa aku beriman, tapi tidak
nyatanya.



 



Aku hanya berharap.



Rahmah-Mu.



Yang meliputi segala sesuatu.



Aku pun mengharap ia meliputiku.



Meliputi hatiku yang mengusang terdera fana.



 



Hingga satu saat.



Aku mengharapkan perjumpaan dengan-Mu.



Melihat kepada-Mu.



Kembali kepada-Mu.



Sebagai hamba, yang sebenar-benar hamba.



 



Pada saat itulah.



Nikmat terbesar kurasakan sebagai ciptaan.



Untuk bertemu dengan Penciptanya.



 



Madrasah.



12 Dzulqa'dah 1429.



23:58