Rabu, 17 September 2008

A letter to my brother...

Kamu kemarin nanya apa ya.. ta'aruf sebagai pengganti pacaran, kalo ga salah ya?


Ya... yang coba aku jawab... .


Kenapa nanya masalah ini seh? Kamu kan tau aku ga pernah berhubungan serius dengan wanita... ^^; why? Hematku hubungan serius itu hanya dengan pernikahan. That's the only way. Tapi itu kesimpulan yang aku ambil akhir-akhir ini, beberapa tahun terakhir ini.


Duluuuuuu sekali memang, aku pernah memberi atribut kepada beberapa gadis yang kukenal dengan 'someone special' tapi itu hanya gejala pubertas yang kayaknya sudah biasa untuk muncul (sudah biasa? Betulkah?)


Tapi lama kelamaan, aku memahami bahwa hubungan, dalam bentuk apapun antara laki-wanita adalah terbatas.


Yup, terbatas.


Karena... memang pada dasarnya manusia diciptakan dengan akal dan nafsu yang selalu tarik menarik kepentingan- kayak partai politik.


It's ok. Pasti pertama kali kita bilangnya gitu. Ga papa, wong cuma teman. Cuma teman? Hahaha...


Lama kelamaan, pasti hubungan itu menjadi candu, dengan proses metafisika sebagai berikut: pertama kenal, kemudian akrab, lalu curhat, kemudian kalo dia ga ada jadi kangen, berikutnya jadi demen, kalo sudah demen jadian, kalo sudah jadian, dunia jadi milik berdua, yang lain numpang...


Apapun harus dilakukan bersama... belanja bersama, nonton bersama, jalan-jalan bersama, bahkan, nauzu Billah, serumah... tanpa ada ikatan.


Apa seperti ini yang kita mau?


Akan ada dua jawaban, dari dua sumber yang berbeda.


Akal sehat akan mengatakan tidak. Sama sekali tidak.


Nafsu angkara akan mengatakan kenapa tidak?.


Bandingkan.


Sebuah hubungan yang dibangun atas dasar akal sehat, bukan sekedar suka-sama-suka atw nafsu.


Suatu hubungan di mana pria dan wanita keduanya muslim yang lurus. Tidak macam-macam, ataupun salah seorang saja yang betul-betul muslim, yang bisa mempengaruhi pasangannya.


Cinta dibangun atas perasaan, pengorbanan sebagai ungkapan, saling memahami antar individu, tidak hanya mengharapkan kenikmatan duniawi saja...


suami menghormati istri, begitu pula istri menghormati suami.


Perbedaan berarti persamaan, karena keduanya sama-sama memiliki hal yang berbeda untuk disamakan.


Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, tidak hanya mengharapkan kelebihan saja, di situlah letak dari asas pernikahan.


Btw, aku ngomong begini bukan berarti aku dah married lo... bukan.... ga salah kan hanya sekedar menggariskan konsep dari pengalaman-pengalaman orang lain?


Soalnya, pasangan itu bukanlah 'someone perfect' yang mungkin kita impi-impikan.


Ingat, nobody is.


Ga ada yang sempurna, kecuali Al-Khaliq.


Kalo kamu selalu memimpikan pasangan hidup yang sempurna, bersiaplah untuk menyesal di suatu saat nanti. Karena kamu ganti berapa kali pun, kamu tidak akan pernah menemukan '100%' pasti akan ada kekurangan, termasuk, jangan lupa, faktor penuaan.


Ada beberapa bapak-bapak yang lebih memilih untuk selingkuh... karena istrinya ga cantik seperti dulu lagi ato dengan alasan yang ga masuk akal, bosan. Mau jadi apa, umat manusia ini kalo semua orang seperti itu? Seperti itu puk, kalo married atas dasar nafsu...


Gitu deh.. piye sekarang? Udah ga usah pacaran, married sajalah.


Ada teman untuk curhat, jalan bareng, tilawah bareng, dhuha bareng, tahajjud bareng, puasa bareng, tafakkur bareng... everything bareng.


Itu yang menjadi jawaban, ana kira nt bisa ngambil istinbat dari sito...


Tapi btw... aku mencoba agar ga terlalu larut dengan cewek, kalo kenal ya sudah, kenal saja, ga sampe... tapi aku ga bisa mungkiri juga, i miss her.


She, who will be my wife, will be a mother of my kids...


Dia yang menerimaku apa adanya. Dia yang memasrahkan hidupnya kepadaku.


Dia yang membimbingku ketika aku kehilangan kendali. Ia yang menjadi semangatku saat redup. Ia yang mengajariku arti kehidupan, yang memberi arti dalam hidupku. Ia yang membelaku saat semua orang membenciku, ia yang menegakkan kepalaku saat sedih melanda.


Ia yang mengingatkanku tentang Allah, dan bahwa dunia ini hanya fanaa', yang cepat hilang...


Dambaanku, adalah seorang shalihah, yang mencintai aku, dan anak-anakku, Lillah. Yang mampu menjaga dirinya dan keturunannya, dari segala hal yang merusak. Yang mampu membimbingku, dalam kebimbanganku. Yang mampu membetulkan langkahku, bila jalan yang ku tempuh salah. Yang menerima aku, apa adanya, dengan segala kekurangan diriku. Yang mau berjuang, li I’laai kalimatillah. Qurrata a'yunku.


Yup, that's it… kalo ada komen silakan… I'm waitin for.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar