Kamis, 28 Agustus 2008

Lelaki dan Surga

Dalam terang, lelaki itu tersenyum. Menatap langit yang berkabut tebal, mencari sisa-sisa dari rekahan fajar. Menghirup basahnya tanah berembun. Entah bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini. Ia hanya berjalan, berjalan sekehendak hati membawanya. Melangkah terikut penjuru angin.

Dia hanya ingin pergi dari mana ia berasal. Pergi menjauh. Inginnya hanya lepas, dari hal yang membebaninya. Ia ingin lari dari takdirnya, takdir yang melukai hatinya.

Ini bukan takdirku, teriak hati kecilnya.

Tempatnya berasal adalah sepotong surga di muka bumi. Tiada kesah maupun keluh. Tiada tangis. Hanya muka berseri-seri yang ada di sana. Air mengalir tanpa keruh, dan pepohonan meranum tiap musimnya. Tapi lelaki itu tiada terpuaskan dengan apa yang didapatkan di surga itu. Ia inginkan hal lain.

Terlahir di surga itu, membuatnya asing dengan dunia. Dunia para manusia. Dunia yang penuh nista. Penuh dusta. Penuh fitnah dan coba. Tidak ada kekekalan di sana, karena ia adalah fana. Selama ini, ia mendengar saja cerita mengenai dunia. Aku ingin tinggal di dunia luar. Aku ingin hidup di sana, serunya.

Sang lelaki meninggalkan surganya. Tanpa sepengetahuan seorang pun, ia menyelinap turun ke dunia.

Ia mencari hidupnya. Hidup yang bisa memberinya kepuasan batin. Hidup yang benar-benar hidup. Hidup yang diusahakannya. Tidak sekedar diberi.

Ia tahu, mungkin hidupnya di dunia tiadalah mampu memberinya kenikmatan sebagaimana ia hidup di surga.

Ia tahu, mungkin ia akan menderita di sana. Menderita karena cobaan. Atau menderita karena hal-hal keduniawian.

Mungkin Tuhan murka padanya, karena ia dengan tiada terima kasih meninggalkan surganya dan memilih untuk hidup di dunia luar.

Tapi ia resah di surga. Ia ingin hidup, sebagaimana manusia hidup. Ia ingin menemukan arti keberadaannya saat ini, kata egonya.

Biarlah menderita, asal ia merasa senang dan dapat merasakan apa yang dirasakan manusia.

Seakan menipu dirinya sendiri, ia menghadapi kesemuanya.

Namun, pada satu waktu, ia begitu merindukan surga yang damai.

Dunia menyita waktunya, membuatnya lelah.

Ia lupa dirinya, ia lupa Tuhannya.

Ia ingin kembali ke surga.

Tempat yang dulu dikhianatinya.

Di sela kesahnya ia berharap, ada secuil surga dari Tuhan untuknya...


Metafora untuk seorang sahabat, dan saudara,

Cari dan berharaplah akan surga, di manapun ia berada, karena ia adalah milik Allah semata.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar