Kamis, 28 Agustus 2008

Marhaban, ya Ramadhan Kariim...

Aku berharap semoga setiap hari menjadi bulan Ramadhan. Di mana nama Allah begitu teringatkan. Dengan sahur, puasa dan buka. Dengan tarawih. Dengan tilawah. Dengan keliling sebelum sahur. Dengan jamaah subuh di masjid. Alangkah indahnya. Tapi itu tidak selamanya, hanya satu purnama saja. Seandainya....




Lelaki dan Surga

Dalam terang, lelaki itu tersenyum. Menatap langit yang berkabut tebal, mencari sisa-sisa dari rekahan fajar. Menghirup basahnya tanah berembun. Entah bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini. Ia hanya berjalan, berjalan sekehendak hati membawanya. Melangkah terikut penjuru angin.

Dia hanya ingin pergi dari mana ia berasal. Pergi menjauh. Inginnya hanya lepas, dari hal yang membebaninya. Ia ingin lari dari takdirnya, takdir yang melukai hatinya.

Ini bukan takdirku, teriak hati kecilnya.

Tempatnya berasal adalah sepotong surga di muka bumi. Tiada kesah maupun keluh. Tiada tangis. Hanya muka berseri-seri yang ada di sana. Air mengalir tanpa keruh, dan pepohonan meranum tiap musimnya. Tapi lelaki itu tiada terpuaskan dengan apa yang didapatkan di surga itu. Ia inginkan hal lain.

Terlahir di surga itu, membuatnya asing dengan dunia. Dunia para manusia. Dunia yang penuh nista. Penuh dusta. Penuh fitnah dan coba. Tidak ada kekekalan di sana, karena ia adalah fana. Selama ini, ia mendengar saja cerita mengenai dunia. Aku ingin tinggal di dunia luar. Aku ingin hidup di sana, serunya.

Sang lelaki meninggalkan surganya. Tanpa sepengetahuan seorang pun, ia menyelinap turun ke dunia.

Ia mencari hidupnya. Hidup yang bisa memberinya kepuasan batin. Hidup yang benar-benar hidup. Hidup yang diusahakannya. Tidak sekedar diberi.

Ia tahu, mungkin hidupnya di dunia tiadalah mampu memberinya kenikmatan sebagaimana ia hidup di surga.

Ia tahu, mungkin ia akan menderita di sana. Menderita karena cobaan. Atau menderita karena hal-hal keduniawian.

Mungkin Tuhan murka padanya, karena ia dengan tiada terima kasih meninggalkan surganya dan memilih untuk hidup di dunia luar.

Tapi ia resah di surga. Ia ingin hidup, sebagaimana manusia hidup. Ia ingin menemukan arti keberadaannya saat ini, kata egonya.

Biarlah menderita, asal ia merasa senang dan dapat merasakan apa yang dirasakan manusia.

Seakan menipu dirinya sendiri, ia menghadapi kesemuanya.

Namun, pada satu waktu, ia begitu merindukan surga yang damai.

Dunia menyita waktunya, membuatnya lelah.

Ia lupa dirinya, ia lupa Tuhannya.

Ia ingin kembali ke surga.

Tempat yang dulu dikhianatinya.

Di sela kesahnya ia berharap, ada secuil surga dari Tuhan untuknya...


Metafora untuk seorang sahabat, dan saudara,

Cari dan berharaplah akan surga, di manapun ia berada, karena ia adalah milik Allah semata.




Sabtu, 02 Agustus 2008

Negara Impian

Negara yang damai, dengan khilafah Islamiyyah, dan Qur'an dan Sunnah sebagai pegangan. Negara yang tenang, tidak perlu ada demonstrasi di jalan-jalan. Semuanya cukup dengan syura. Ulama, yang sebenar-benar ulama, menjadi faqih dan qadhi. Menjadi referensi hukum dan kebijakan. Ekonomi dijalankan atas dasar syariah, dengan pajak sebagai pemasukan negara yang secara profesional dimenej. Setiap individu rakyat dijatah oleh negara, dengan kebutuhan seperlunya.

Ketika terdengar azan, maka semua aktivitas terhenti seketika, dan semua rakyat, berduyun-duyun memenuhi panggilan Tuhan.


Negara yang mandiri dan tidak memiliki utang, bahkan memberikan utangan, tanpa bunga, kepada negara-negara lain yang membutuhkan.


Negara dengan jumlah penduduk yang merata, banyak sekalipun, tidak perlu ada disintegrasi, pemisahan dari sentral, dan perusakan fasilitas umum maupun pribadi.


Negara yang muslim, tapi mengayomi penduduk lain yang tidak memeluk muslim.


Alangkah indahnya bila negara itu terwujud.


Ingatlah Andalus yang damai.


Ingatlah Jabal Thariq.


Ingatlah Madinah Al-Munawwarah.

Kenapa Saya Muslim?

Itu adalah pertanyaan yang paling tidak butuh jawaban bagi saya.


Saya muslim, karena memang itu fitrah saya.


Saya memilih, karena saya tahu, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Laa Ilaaha Illa Allah.


Saya bukan muslim karena orang tua saya, meskipun mereka berdua muslim. Saya berterima kasih kepada keduanya, karena telah mengenalkan saya kepada Islam.


Saya muslim karena saya manusia, dan saya diciptakan oleh allah. Karena tidak ada pencipta selain Allah, Subhanahu Wa Ta'ala. Maha Suci Allah.


Hanya Ia yang pantas disembah.


Sungguh, kalaulah saya memikirkan dan menghitung segala kebaikan yang diberikan olehnya, maka tidak akan pernah mampu saya menghitungnya.


Teramat banyak.


Tak terhingga.


Cobalah renungkan.


Dari sejak membuka mata pada pagi hari, terbangun dari mati sementara yang kita sebut 'tidur', ketika kita tidur, tiada terasa bahwa sistem di dalam tubuh tetap bekerja, tiada istirahat, cuti maupun break. Siapa yang memberi itu semua? Sistem pernafasan yang membuat kita mampu mengolah oksigen, sistem pencernaan, peredaran darah, sirkulasi, syaraf, dan lainnya. Siapa yang mampu membuat seperti aslinya? Tidak ada yang bisa.


Itu baru dalam tubuh manusia. Lihatlah dunia ketika baru terjaga dari tidur panjangnya, di saat sinaran matahari menyirami bumi seisinya. Siapa pencipta matahari?


Apakah ia ada dengan sendirinya? Ataukah ia tiba-tiba saja tercipta, ex-spontanea?


Tidak mungkin.


Lihatlah langit luas.


Siapakah desainernya?


Hanya Ia, Allah.


Allah, Rabbku.


Kepada-Nya aku menyembah. Kepada-Nya aku kembali.